ad

Tampilkan postingan dengan label candu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label candu. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Januari 2017

EKSISTENSI KEJAHATAN NARKOTIKA SEBAGAI KEJAHATAN TERORGANISASI DI INDONESIA DILIHAT DARI SUDUT PANDANG EKONOMI

I.                   PENDAHULUAN
Masalah kejahatan menurut Durkheim adalah gejala yang normal pada masyarakat.[1] Oleh sebab itu kejahatan bukan lagi merupakan pembahasan yang baru, khususnya dalam kajian sosiologis dan kriminologis yang melihat kejahatan merupakan bagian dari fenomena sosial. Kejahatan tentu saja tidak hanya sebatas pada kejahatan jalanan seperti pencurian, pembunuhan, dan lain sebagainya. Kejahatan juga tidak hanya dapat dilakukan oleh individu, melainkan juga dapat dilakukan secara terorganisasi.
Kejahatan yang dilakukan secara terorganisasi atau yang selanjutnya akan disebut kejahatan terorganisasi memiliki banyak definisi, diantaranya adalah definisi yang dikemukakan oleh Joseph Albini yang menyatakan kejahatan terorganisasi adalah  setiap kejahatan yang melibatkan dua atau lebih individu, khusus atau tidak khusus, yang menggunakan beberapa bentuk struktur sosial, dengan beberapa macam kepemimpinan, menggunakan mode operasi tertentu, di mana tujuan utama organisasinya dapat dilihat pada usaha dari kelompok partikular tersebut.

Minggu, 17 Juli 2016

Pasangan Kriminal Selundupkan Heroin di Alkitab

Pasangan Kriminal Selundupkan Heroin di Alkitab


Polisi Jerman di Dresden menunjukkan sebuah paket heroin - AFP / ARNO BURGI / DPA
: Seorang pria dan wanita dituding berusaha menyelundupkan paket heroin ke penjara dengan menyembunyikannya di dalam sebuah Alkitab.

Teehani Teepe mengirimkan Alkitab berisi heroin Kelas A pada kriminal Timothy King di Penjara Hamilton County, Ohio, Amerika Serikat. Heroin disembunyikan di balik sebuah noda di halaman 420.
Walau heroin itu dipipihkan agar masuk ke Alkitab, anjing pelacak berhasil mendeteksi keberadaannya.

"Anda semua sekarang mengetahui bagaimana orang-orang ini bisa begitu kreatif, menyembunyikan heroin di Alkitab," ucap Sheriff Hamilton County Jim Neil, seperti diwartakan Mirror.co.uk, Minggu (18/1/2015).

"Menurut pendapat saya, aksi ini cukup inovatif," sambung Deputi Sheriff Mark Schoonover.

Jika terbukti bersalah, pengirim dan penerima heroin terancam hukuman lima tahun penjara dan denda USD10 ribu.


(Metrotvnews.com, Ohio)

Senin, 30 Mei 2016

China Ingin Hancurkan Generasi Muda Indonesia Lewat Narkoba




 Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso (Buwas) mengungkapakan, peredaran narkotika di Indonesia mayoritas dipasok dari Cina. Narkotika asal negeri tirai bambu itu diproduksi melalui industri rumah tangga (home industri).

“Jaringannya macam-macam. Sampai saat ini yang terbesar dari Cina. Kalau Cina ini kan produksinya besar, home industry,” katanya di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Jumat (27/5/2015), lansir metrotvnews.
Buwas mengatakan, BNN sudah bekerja sama dengan pemerintah Cina dan Taiwan memantau jarinan narkotika internasional. Badan intelijen Tiongkok terus memeberikan informasi peredaran narkotika yang akan masuk ke tanah air.

“Jika mereka (produsen narkotika asal Cina) mulai menjual, pembelinya orang Indonesia, mereka (badan intelijen Cina) menginformasikan bahwa ada yang pesan barang ke orang Indonesia dengan jumlah barangnya sekian,” tutur dia.

Diungkapkan Buwas, masuknya narkotika ke Indonesia didominasi melalaui jalur laut dengan berbagai modus. Saat ini, ada 43 dari 541 jenis narkoba sudah masuk ke Indonesia. Pengungkapan kasus narkoba sulit terungkap karena pelaku bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk aparat.

“Jumlah narkotika yang sudah masuk ke Indonesia sudah dalam hitungan ton. Hanya disimpan dan sembunyikan, karena mereka bekerja sama dengan elemen masyarakat termasuk oknum aparat. Ada pemesananya baru keluar,” kata dia.

Terkait narkotika jenis baru, BNN bekerja sama dengan Rusia untuk mendeteksi narkotika jenis baru. Buwas bilang, Indonesia belum memiliki teknologi pendeteksi narkotika jenis baru.

“Rusia memiliki kemampuan laboratorium yang luar biasa terhadap narkotika jenis baru. Memang produsen narkoba mereka terus menciptakan narkotika jenis baru agar tidak terdeteksi dan bisa masuk ke Indonesia,” ucap Buwas.

Tak hanya itu, BNN juga bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kemenkumham untuk memperketat pengawasan terpidana kasus narkoba. Sebab, mayoritas peredaran narkotika dikendalikan dari dalam lapas.

“Sebentar lagi kita ungkap, jaringan aktif betul di lapas. Kita lakukan upaya-upaya pengetatan, tapi mereka masih bisa eksis, karena mengahadapi keterbatasan yang beracam-macam mulai dari jumlah personel, paralatan, sarana dan prasarana termasuk manusianya yaitu aparatnya,” katanya. 

Senin, 01 Februari 2016

Memulai Perang Narkoba dari Kampung Kubur




Narkoba terus menggerogoti sendi-sendi kemanusiaan dan kemasyarakatan. Sedikitnya 4 juta orang menjadi korban narkoba dan sekitar 12 ribu di antaranya mati saban tahun. Saatnya perang melawan mafia narkoba.
================

Perlawanan bandar narkoba telah menunjukkan kebrutalan kepada petugas ketika akan memutus mata rantai barang haram itu. Peristiwa penggerebekan markas Oma Yola di kawasan Berlan, Matraman, Jakarta Timur, yang menewaskan Bripka Taufik dan seorang informan memperlihatkan gelagat kebrutalan itu. Demikian pula peristiwa di Sumatera Utara, seorang anggota personel Satres Narkoba Polresta Medan tertembak, dan seorang terkena lemparan batu saat melakukan penggrebekan salah satu rumah terduga tempat peredaran narkoba di Desa Pematang Johar, Dusun Sukaria, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Diliserdang. Ini salah satu pertanda dimulainya “perang terbuka” terhadap bandar narkoba.

Bahkan bandar narkoba kini berlindung di balik masyarakat untuk melindungi diri untuk melakukan perlawanan terhadap aparat penegak hukum. Masyarakat selalu dijadikan tameng ketika terjadi penggrebekan oleh aparat keamanan. Keberanian bandar narkoba melakukan perlawanan juga menunjukkan bahwa kelompoknya sudah kuat. Jaringannya sudah luas, bahkan sudah memiliki senjata api dan “pasukan”. Ini benar-benar tantangan berat bagi aparat penegak hukum dalam melakukan penumpasan dan menangkap para bandar narkoba. Perlawanan ini juga menunjukkan peredaran narkoba sudah sampai pada titik kritis.

Di tengah situasi kritis itu, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia, Komisaris Jenderal Budi Waseso, menyatakan seluruh lapisan masyarakat harus perang narkoba. Apalagi, Presiden Joko Widodo menyampaikan Indonesia darurat narkoba.

"Bila Bapak Presiden Joko Widodo menyampaikan Indonesia darurat narkoba. Maka, kita perang narkoba, semua unsur harus beri perlawanan kepada bandar narkoba," ujarnya saat mengunjungi Kampung Kubur, Medan Petisah, Sumatera Utara, Rabu (20/1).

Dia menambahkan pihaknya sangat berterima kasih kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang punya keinginan melakukan perlawanan terhadap bandar narkoba.

"Kemarin ada kejadian personel Polresta Medan terluka dan tertembak karena ada perlawanan dari bandar narkoba. Kenapa bandar narkoba melakukan perlawanan saat penggerebekan berlangsung? Karena mereka merasa ruang geraknya menyempit karena aparat kepolisian melakukan penggerebekan," ujarnya.
Kepala BNN, Komjen Budi Waseso bersama Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Ngadino dan Plt Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi berkunjung di Kampung Kubur. Kedatangan pejabat itu disambut para Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kota Medan serta Kapolresta Medan, Kombes Pol Mardiaz Kusin Dwihananto.

Usai berkeliling kampung, Budi Waseso berbincang-bincang bersama masyarakat sembari berikan penjelasan tentang bahaya narkoba. Dan warga Kampung Kubur pun bertekad membersihkan perkampungannya dari aktivitas peredaran dan pemakaian narkoba.

Komjen Budi Waseso menegaskan, maraknya peredaran narkotika di Indonesia telah mengancam masa depan generasi penerus bangsa. Sudah sepatutnya pula bandar narkoba ditindak tegas. Ironinya, Sumatera Utara menduduki ranking ketiga seluruh Indonesia atas luasnya peredaran narkoba. Patut diwaspadai karena saat ini bandar dan mafia narkoba sedang membentuk pangsa pasar baru. Ada operasi regenerasi pangsa pasar yang dibiayai mafia narkotika dengan sasarannya anak-anak mulai tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Bahkan sepak terjang mafia narkoba tidak lagi mudah dilacak. Hal ini tampak pada terungkapnya kasus tindak pidana narkotika yang selalu berkaitan erat dengan kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang merupakan sarana dalam mengaburkan hasil keuntungan dari bisnis Narkotika. Pertengahan Januari 2016 lalu, bekerjasama dengan PPAT dan jajaran Dirjen Lapas khususnya Lapas Cipinang, Lapas Nusakambangan, dan Lapas Medaeng Sidoarjo, BNN berhasil mengungkap kasus TPPU dengan menangkap seorang tersangka berinisial GP (pria/57tahun) dengan total aset yang disita sekitar Rp 17 miliar. Tersangka ditangkap di rumahnya di Perumahan Tebing Indah Permai No.10-11 A, Kelurahan Bandar Utama, Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

Penangkapan GP terkait dengan peredaran gelap narkotika di daerah Surabaya, Jakarta, Cilacap, Tebing Tinggi, dan beberapa daerah lainnya. GP yang pernah dipenjara karena kasus narkotika pada tahun 2000 sampai dengan 2010 ini diketahui memiliki keterkaitan dengan jaringan peredaran gelap narkotika dengan tersangka Pony Chandra (Napi Lapas Cipinang dengan vonis 20 tahun kasus Narkotika dan 6 tahun kasus TPPU), Sodikin (Napi Lapas Medaeng Sidoarjo dengan vonis seumur hidup kasus Narkotika dan 5 tahun kasus TPPU), Amir Mukhlis als Sinyo (Napi Lapas Nusakambangan dengan vonis 20 tahun penjara), Boski als Surya Bahadur Tamang als David (WN Nepal, Napi Nusakambangan dengan vonis 20 tahun penjara kasus Narkotika dan 10 tahun kasus TPPU), dan Ananta Lianggara als Alung als Alvin Jayadi (Napi Lapas Narkotika  Cipinang dengan vonis 20 tahun penjara). 

Dari pola dan skenario yang dilakukan para mafia narkoba ini, jelas mereka telah melakukan perencanaan secara massif dan terstruktur untuk “membunuh” generasi muda melalui narkoba. Ini lebih berbahaya dan dahsyat dibanding dengan bom teroris. Kalau teroris korbannya langsung mati, sedang narkoba membuat korbannya mati perlahan. Negara juga dirugikan lantaran generasinya rusak secara mental-spiritual. Kalau anak-anak sekolah dasar hingga perguruan tinggi sebagai sasaran utama, maka situsai ini benar-benar darurat narkoba. Perlu langkah-langkah strategis dan terencana untuk melawan mafia.

Aparat penegak hukum tidak boleh kalah dalam memberantas peredaran narkoba dan menindak tegas bandar ataupun masyarakat yang menghalang-halangi. Perlawanan para bandar narkoba harus dihadapi. Kalau harus ditembak mati, lakukan. Perlu kesadaran bersama dalam memberantas peredaran dan pengunaan narkoba. Masyarakat harus ikut membantu aparat penegak hukum dan menjadi mata terlinganya polisi dan BNN. Karena para bandar narkoba sudah bersatu, maka seluruh elemen masyarakat dan aparat penegak hukum juga bersatu untuk melakukan perlawanan.

Tindakan tegas aparat penegak hukum harus konsisten. Harus secara terus-menerus melakukan penggrebekan di daerah-daerah yang diduga sebagai basis peredaran narkoba. Jangan beri ruang gerak sedikitpun bagi pengedar dan bandar. Apalagi bandar narkoba yang selalu membawa-bawa nama aparat sebagai tameng buat melindungi kegiatannya. Bukan zamannya lagi, semua harus ditumpas habis tanpa pandang bulu. Sehingga mata rantai peredaran narkoba itu benar-benar terputus.

Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari 98) mendukung langkah tegas Polri  berperang melawan jaringan narkoba seperti dalam penembakan bandar narkoba Rico di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat, pada hari Jumat (22/1). "Negara, khususnya Polri, jangan mau kalah perang melawan narkoba. Sebab narkoba sama bahayanya dengan terorisme, apalagi ini ada kabar gembong narkobanya malah danai aksi teroris," ujar Ketua Dewan Presidium Jari 98 Willy Prakarsa, Kamis (21/1).

Willy menyerukan kepada penegak hukum yang bertugas agar tidak ragu menggunakan senjata api untuk melawan bandar narkoba. Sebab, saat ini para bandar narkoba semakin ganas dan berani melawan petugas yang mengusik bisnis haramnya. Sebab itu, terang dia, apapun dilakukan bandar narkoba agar bisnisnya langgeng.

"Demi penegakan hukum, polisi harus tegas. Anggota polisi juga tidak usah ragu-ragu gunakan senjata api. Bila perlu tembak mati ditempat jika mereka lakukan perlawanan. Dalam keadaan terancam, polisi diperbolehkan untuk melumpuhkan dengan senjata api. Jadi jangan takut HAM," ungkapnya.

Yang juga tidak kalah penting, warga masyarakat harus mampu menjadi polisi bagi dirinya sendiri dan lingkungan. Karena polisi yang baik adalah masyarakat itu sendiri. Jadi perang terhadap bandar narkoba tidak musti angkat senjata, tapi tindakan pencegahan dan melindungi keluarganya dari pengaruh penggunaan narkoba. (BN)

Kamis, 17 Desember 2015

Aneh, Pelajar Diberikan Tugas Proses Penyelundupan Kokain


 Orang tua menyekolahkan anak-anak mereka untuk mendapatkan pendidikan bagi masa depan mereka. Namun, secara mengherankan sebuah sekolah di Texas telah memberikan tugas kepada murid mereka yang berjudul 'Cara Menjadi Pengedar Narkoba'.
Scott Pick, orang tua murid sekolah di Texas, merasa keberatan ketika mengetahui anaknya diberikan pekerjaan rumah tambahan (PR) tentang caranya menjadi pengedar kokain.

Dikutip Russia TimesRabu (16 Desember 2015), tugas itu diberikan kepada anaknya yang masih berusia 11 tahun karena absen sekolah Bear Creek Intermediate ketika sakit. Tugas itu menerangkan jalur pasokan kokain, mulai dari kartel hingga penjualan di jalanan.
Kata sang ayah kepada CBS 11, “Aku melihat dengan huruf besar dan tebal pada halaman depan tugasnya tertulis kokain. Aku merasa sekolah telah memberikan putraku diagram untuk menjadi pengedar narkoba.”
Ayah itu menjelaskan bahwa tugasnya adalah untuk membuat sejumlah pertanyaan canggung terkait narkoba. Namun sang ayah menolak untuk membiarkan anaknya mengerjakan tugas tersebut, yang meminta murid untuk berpikir 'kritis'.
Walaupun berjudul ‘Perdagangan Kokain: Dari Ladang ke Jalanan’, tugas ilmiah itu mungkin saja bermaksud baik bukan untuk melahirkan Pablo Escobar selanjutnya.
Pihak sekolah kepada stasiun CBS 11 mengatakan, “Keller ISD menanggapi dengan serius urusan narkoba dan telah menempatkan sejumlah sumber daya untuk memerangi penyalahgunaan melalui pendidikan dan intervensi.”
“Materi akan ditelaah kembali sebelum digunakan di masa mendatang. Distrik sekolah akan melanjutkan secara teratur upaya bersama untuk menelaah, mengingatkan, dan memperbaiki bahan pelajaran terkait narkoba.”
Sekolah ini mendapat hibah Rp 1,4 miliar untuk pendidikan terkait penyalahgunaan narkoba. (Sumber @KellerISD)
Setelah kisah ini menjadi viral, @KellerISD mengunggah mengenai hadiah yang mereka dapatkan dari pemerintah sebesar US$100.000 atau sekitar Rp 1,4 miliar untuk pencegahan narkoba.
Negara bagian Texas kerap bermasalah dengan materi pendidikan mereka. Tahun ini, penerbit McGraw-Hill terpaksa mengganti kata 'budak' menjadi 'pekerja' dalam buku teks, setelah mendapatkan protes melalui media sosial oleh seorang ibu. (Liputan6.com)

Senin, 21 September 2015

Penahanan Narkoba Berujung Sandera


Menyandera, acapkali dijadikan media untuk menuntut sebuah kepentingan kelompok. Bisa untuk meminta pembebasan teman yang ditahan polisi, bisa pula minta tebusan sejumlah uang.  
===========

Bermula dari tanggal 9 September 2015, dua Warga Negara Indonesia (WNI), Sudirman dan Badar, menebang kayu di Kampung Skofro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom, Papua, yang berbatasan langsung dengan wilayah Papua Nugini. Tiba-tiba sekelompok orang yang mengaku dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) menyerang dan menembak warga setempat. Kemudian Sudirman dan Badar langsung disandera.

Keduanya kemudian dibawa ke Skouwtiau, Vanimo, Papua Nugini. Karena lokasi penyanderaan tak lagi berada di wilayah Indonesia, Komando Daerah Militer (Kodam) TNI mengontak Konsulat Jenderal RI di Vanimo dan meminta bantuan pemegang otoritas Vanimo serta tentara Papua Nugini untuk membebaskan dua WNI yang disandera tersebut.

"Jadi kan tanggal 9 September aksi gerakan separatis OPM atau gerakan separatis Papua bersenjata telah menembak mati satu penebang kayu di Kampung Skofro, Distrik Arso Timur, Kabupaten Keerom. Dari kasus itu dikembangkan ternyata yang kena ada empat orang yang bekerja di situ, satu mati, satu melapor ke Polres dan dua orang tidak diketahui. Pada tanggal 11 September ternyata dua orang itu dibawa ke daerah Skowtiau, itu wilayah PNG," kata Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Mayjen Endang Sondik kepada pers awal pekan lalu.

Mayjen Endang Sondik mengungkapkan pelaku penyanderaan bernegosiasi dengan cara menukarkan dua sandera tersebut dengan rekan mereka yang ditahan di Markas Polres Keerom, Papua. Dua rekannya ditahan oleh aparat Kepolisian lantaran tersangkut kasus narkoba.

"Hari ini (14/9/2015 - red) ketika pihak Papua Nugini bernegosiasi, mereka meminta pembebasan dua rekannya di Polres Keerom. Padahal, kasus ganja itu sudah lama, tahun 2012. Makanya di tahun itu, kelompok separatis menyerang Polsek setempat, itu yang dikenal dengan tragedi Abepura berdarah," kata Mayjen Endang dalam keterangannya kepada pers awal pekan lalu.

Dia menjelaskan, dua rekan mereka yang ditahan itu tidak termasuk pimpinan OPM. Namun mereka meminta untuk dibebaskan. Hingga kini, Mabes TNI masih berkoordinasi dengan Kodam Cendrawasih. "Masih belum ada perkembangan yang berarti, kami monitor dari Kodam Cendrawasih," kata Endang Sondik.

Endang mengatakan, TNI sudah meminta tentara PNG membebaskan kedua sandera tersebut dengan mengutamakan keselamatan mereka. Namun hingga kini belum ada pernyataan dari kelompok yang menyandera kedua WNI tersebut.

Pemerintah tegas tidak akan membarter dua orang WNI yang disandera OPM di Papua Nugini. Menko Polhukham Luhut Binsar Panjaitan menegaskan, pemerintah tidak akan melakukan barter dengan OPM. "Sama sekali tidak ada rencana barter," tegas Luhut di Jakarta, Rabu (16/9).

Luhut juga menyatakan, pemerintah telah menyiapkan langkah khusus apabila tidak tercapai kesepakatan antara pemerintah Papua Nugini dan OPM penyandera. "Kami siapkan langkah-langkah. Tidak akan barter. Rencana paling buruk pun kami siapkan. Ini semua demi kedaulatan bangsa," tegas Luhut.

Luhut Panjaitan mengakui negosiasi militer Papua Nugini dengan Organisasi Papua Merdeka yang menyandera WNI berlangsung alot. "Mengenai OPM, terakhir berita negosiasi masih tertunda antara tentara PNG dan yang menyandera," katanya.

Luhut mengatakan negosiasi berjalan alot karena ada sejumlah permintaan dari OPM yang tidak bisa dipenuhi Pemerintah Indonesia. Tapi dia enggan merinci permintaan yang diajukan OPM. "Ada permintaan mereka yang tidak bisa kami penuhi dan kami tidak pernah mau kompromi terhadap masalah penyanderaan," katanya.

Pasukan Kodam Cendrawasih pun siap mendukung apapun keputusan Pemerintah. Saat ini pasukan Kodam Cendrawasih bersiaga menunggu perintah lanjut "Kami masih memonitor proses upaya yang dilakukan pemerintah dengan PNG (Papua Nugini)," jelas Kapendam XVII/Cendrawasih Letkol Teguh Puji Rahardjo, Rabu (16/9).

Dijelaskan Teguh, pihaknya belum mengetahui seperti apa perkembangan terbaru negosiasi antara pemerintah dan OPM yang melakukan penyanderaan dua orang WNI di wilayah Skouwtiau, Papua Nugini.

"Kami semua standby saja di perbatasan. Kami semua selama ini terus berlatih, berlatih dan berlatih. Artinya siap dengan segala kemungkinan. Apapun perintah dari pemerintah, sebagai prajurit kami siap menjalankan perintah apapun," jelas Teguh.

"Mudah-mudahan proses pembicaraan pemerintah dengan PNG bisa baik-baik," imbuh Teguh.

TNI, lanjut Teguh, terus berkoordinasi dengan angkatan bersenjata PNG dan pemerintah setempat melalui Konsulat RI dan Atase Pertahanan (athan) di Vanimo, Papua Nugini.

Menurut Teguh, pihaknya terus memantau melalui Konsulat Indonesia yang ada di Vanimo. Dia mengatakan Konsulat Indonesia di Vanimo dan TNI di Papua Nugini bekerja sama dengan tentara Papua Nugini melakukan komunikasi dengan kelompok gerilya perbatasan itu. "Agar sandera dibebaskan, Konsulat Indonesia minta kami tidak buat gaduh," katanya.

Teguh mengatakan tidak membuat gaduh artinya TNI diminta tidak mengeluarkan pernyataan atau tuduhan-tuduhan sembarangan agar komunikasi kelompok gerilya itu dengan pihak Indonesia dan tentara Papua Nugini dapat berjalan lancar.

Pemerintah Indonesia terus membangun komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah Papua Nugini untuk membebaskan kedua sandera tersebut. Guna membantu penyelamatan sandera, pihak tentara PNG sudah menyiapkan kekuatan besar dari Port Moresby, Ibu Kota PNG.

"Pihak Army PNG sendiri menurut Konsulat PNG, sudah mempersiapkan kekuatan yang cukup besar didatangkan dari Port Moresby untuk membantu pihak Army PNG yang ada di Vanimo," kata Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw, usai melakukan pertemuan dengan Kosulat Negara Papua Nugini untuk Provinsi Papua, Mr. Jack Aly, Selasa (15/9).

Pertemuan digelar tertutup. Pembahasan dalam pertemuan tersebut terkait koordinasi pembebasan dua sandera yang ditahan OPM di Papua Nugini.

Langkah ini dilakukan mengingat lokasi penyanderaan berada di negara tetangga. Sehingga kewenangan penuh tindakan ada di tangan Pemerintah PNG. Saat ini semua pihak masih menunggu upaya pihak Army PNG yang melakukan negosiasi dengan kelompok Jefri Pagawak.

Selain upaya dari pihak Army PNG, sebelumnya Polda Papua telah mengutus tiga orang tokoh adat untuk bertemu pimpinan Kelompok Sipil Bersenjata (KSB), Jefri Pagawak, di Bewani, PNG, untuk melakukan negosiasi agar kedua WNI yang disandera itu segera dibebaskan. (*)



Rabu, 03 Juni 2015

Perang Kartel Narkotika Makin Membara dan Mengguncang Meksiko

Hari Jumat (22/5/2015) merupakan hari paling berdarah di Meksiko dalam masa kepemimpinan Presiden Enrique Pena Nieto. Sedikitnya 44 orang tewas dalam baku tembak selama tiga jam antara pasukan keamanan Meksiko dan kelompok kartel narkotika di sebuah peternakan terpencil yang dikenal dengan nama Rancho del Sol, di dekat kota Tanhuato, salah satu markas anggota kartel Generasi Baru Jalisco (Jalisco New Generation/JNG), dekat perbatasan Negara Bagian Michoacan dengan Negara Bagian Jalisco.
  Polisi Meksiko  berdiri di dekat gerbang peternakan   Rancho del Sol, dekat  Vista Hermosa, Meksiko, Jumat (22/5) waktu setempat. Sedikitnya 44 orang tewas dalam baku tembak antara aparat keamanan dan kelompok kartel narkotika. Peristiwa itu terjadi di dekat perbatasan Negara Bagian Michoacan dan Negara Bagian Jalisco, dan berawal ketika polisi federal berusaha menghentikan sebuah kendaraan di jalan raya, dekat peternakan.
AP Photo/Refugio Ruiz Polisi Meksiko berdiri di dekat gerbang peternakan Rancho del Sol, dekat Vista Hermosa, Meksiko, Jumat (22/5) waktu setempat. Sedikitnya 44 orang tewas dalam baku tembak antara aparat keamanan dan kelompok kartel narkotika. Peristiwa itu terjadi di dekat perbatasan Negara Bagian Michoacan dan Negara Bagian Jalisco, dan berawal ketika polisi federal berusaha menghentikan sebuah kendaraan di jalan raya, dekat peternakan.
Awalnya polisi federal menerima informasi bahwa kelompok bersenjata berkumpul di sebuah peternakan. Ketika tentara dan polisi federal mendekati lokasi tersebut, tiba-tiba dari sebuah kendaraan muncul kelompok lelaki bersenjata yang melepaskan tembakan. Kendaraan itu kemudian merapat ke arah peternakan dan masuk ke sebuah gudang di sana. Sebanyak 500-an tentara dan polisi federal yang menggunakan peluncur roket dan senjata semiotomatis mengejar dan mengepung mereka dari udara dan darat. Baku tembak itu akhirnya menewaskan puluhan anggota kartel, termasuk dua anggota polisi federal dan melukai satu polisi lainnya.
Video yang diperoleh Associated Press memperlihatkan polisi federal berada di lokasi di tengah kobaran api dan jenazah tergeletak di ladang, di samping peralatan pertanian. Di dekatnya tampak sejumlah pakaian, kasur, dan sleeping bag penuh noda darah. Pihak keamanan Meksiko menahan 3 orang dan menyita 36 senjata semiotomatis, 2 senjata lebih kecil, serta 1 granat dan senapan kaliber 50. Aparat juga menyita 8 kendaraan, 6 di antaranya hangus terbakar.
Polisi tidak menyebutkan nama pemilik peternakan seluas 112 hektar tersebut dengan alasan keamanan. Di kawasan itu terdapat rumah besar dan lapangan tenis. Peternakan itu sudah beroperasi selama 15 tahun.
Komisioner Keamanan Nasional Alejandro Rubido, seperti dikutip The Telegraph, menyebutkan, para tersangka yang tewas dalam baku tembak itu adalah anggota organisasi kriminal yang wilayah operasinya di Negara Bagian Jalisco. Meski tidak menyebutkan secara khusus kartel JNG, Rubido menggambarkan kartel narkotika itu menguasai wilayah di lokasi terjadi baku tembak.
Hanya dalam beberapa tahun, kartel JNG berkembang pesat dari sebuah faksi kecil dalam kartel Sinaloa menjadi kelompok kriminal terkuat di Meksiko. Kartel ini masuk dalam daftar hitam organisasi kejahatan narkotika yang disusun Amerika Serikat.
Pesatnya perkembangan kartel JNG mencerminkan perubahan peta kejahatan terorganisasi di Meksiko. Setelah banyak bos-bos kartel narkotika di Meksiko diburu aparat keamanan dan terbunuh dalam serangan, kartel JNG justru mengambil keuntungan dari rontoknya kartel-kartel lain. Mereka mengambil alih wilayah kartel-kartel yang sudah melemah.
Kekerasan bersenjata
Perbatasan Negara Bagian Michoacan dan Jalisco merupakan wilayah yang dikuasai kartel JNG dan menjadi lokasi berbagai insiden kekerasan dalam beberapa tahun terakhir.
Di kota La Barca, pada 2013, Pemerintah Meksiko menemukan lebih dari lima lusin jenazah di kuburan massal yang terkait dengan kartel Jalisco. Pada 2014, kelompok bersenjata menembak mati wali kota Tanhuato.
Polisi federal  menjaga peternakan yang menjadi lokasi baku tembak antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata di Tanhuato, dekat perbatasan Negara Bagian Michoacan dan Jalisco, Jumat (22/5) waktu setempat. Baku tembak yang menewaskan sedikitnya 44 orang itu merupakan salah satu hari paling berdarah dan mengguncang Meksiko semasa kepemimpinan Presiden   Enrique Pena Nieto.
REUTERS/Alan Ortega
Polisi federal Meksiko  berdiri di luar peternakan yang menjadi lokasi baku tembak antara aparat keamanan dan kelompok bersenjata di Tanhuato, dekat perbatasan Negara Bagian Michoacan dan Jalisco, Jumat (22/5) waktu setempat. Baku tembak yang menewaskan sedikitnya 44 orang itu merupakan salah satu hari paling berdarah dan mengguncang Meksiko semasa kepemimpinan Presiden   Enrique Pena Nieto.
REUTERS/Alan Ortega
Pada 2015, dalam beberapa pekan terakhir, kartel JNG telah melakukan serangkaian serangan besar-besaran terhadap polisi federal dan polisi lokal. Sedikitnya 20 anggota polisi tewas dalam serangan kartel itu sejak Maret 2015.
 (http://print.kompas.com)

Rabu, 29 Oktober 2014

Gagal, Modus Baru Penyelundupan Bahan Sabu Pakai Termos

SHUTTERSTOCKIlustrasi: Sabu.
 Bea Cukai Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara  menggagalkan upaya penyelundupan bahan baku narkotika jenis sabu sabu seberat 500 gram. Kristal bahan sabu tersebut disamarkan dalam kemasan pemanas air.

”Pukul 18.00 Wita, petugas operator x-ray mencurigai ada tampilan dari scan xray kami terhadap sebuah kotak pemanas air merek Jeban yang dibawa buruh pelabuhan," kata Kepala Bea Cukai Nunukan Max Franky Karel Rori, Selasa (28/10/2014) menjelang tengah malam.

Menurut Max, pemeriksaan fisik mendapati satu bungkus alumunium foil disembunyikan di bagian bawah pemanas tersebut. "Setelah dibuka, didapati serbuk kristal bening. Diperiksa dengan drugfeet kit, hasilnya kristal itu diduga narkotika jenis amphetamine dengan berat bruto 500 gram."

Bersama kotak pemanas itu, lanjut Max, diamankan tiga orang yang mengaku bekerja sebagai buruh, yakni I, AM, dan H. Mereka diduga menyelundupkan bahan baku sabu itu dari Malaysia. Adapun pemilik barang haram yang ditaksir seharga setengah miliar rupiah tersebut masih buron.

Dari informasi yang dihimpun Kompas.com, para petugas Bea Cukai Nunukan dan polisi sempat mengejar pemilik bahan baku sabu tersebut. Diduga, pemilik barang ini berjumlah dua orang dan terdata menginap di Hotel Gita di kawasan Pelabuhan Tunontaka, Nunukan.

Namun, saat kamar bernomor 103 di hotel itu digerebek petugas, kedua orang tersebut sudah kabur. Hingga Rabu (29/10/2014) dini hari, pengejaran masih berlanjut.

Untuk sementara, petugas Bea Cukai Nunukan masih memeriksa ketiga buruh yang telah tertangkap itu. Menurut Max, modus penyelundupan memakai kotak pemanas ini bisa dibilang baru. "Untuk di Nunukan, ini modus baru. Baru kali ini kami menemukannya," kata dia. (
http://regional.kompas.com/)

Senin, 13 Oktober 2014

Polisi Meksiko Tangkap Gembong Kartel Narkoba Juarez

RONALDO SCHEMIDT / AFPVicente Carrillo Fuentes, pimpinan kartel narkoba Juarez, digiring polisi di bandara Mexico City setelah ditangkap di wilayah sebelah utara negeri itu.
Kepolisian Meksiko berhasil menangkap pemimpin kartel narkoba Juarez Vicente Carrillo Fuentes, Kamis (9/10/2014). Pria yang juga dikenal dengan nama El Viceroy itu diyakini memicu perang antar-geng narkoba yang mengakibatkan tewasnya ribuan orang.

Mengenakan kemeja biru dan celana jins, Carrillo Fuentes dipamerkan di depan kamera televisi di bandara Mexico City sebelum digiring ke dalam sebuah helikopter oleh seorang anggota polisi federal yang mengenakan penutup wajah.

Gembong narkoba ini ditangkap setelah aparat kepolisian di sebuah pos pemeriksaan saat sedang mengendarai mobilnya di Torreon, sebuah kota di negara bagian Coahuila. Saat ditangkap Carrillo bersama dengan salah seorang pengawalnya. Beruntung polisi berhasil menangkap keduanya tanpa memuntahkan satupun peluru.

"Ini hasil kerja keras intelijen. Fuentes didakwa terlibat dalam kejahatan terorganisasi dan penyelundupan narkoba," kata Komisioner Keamanan Nasional, Monte Alejandro Rubido.

Penangkapan gembong narkoba berusia 51 tahun itu memberikan kemenangan baru untuk Presiden Enrique Pena Nieto dalam perang melawan kartel narkoba di tengah amarah nasional kekhawatiran tewasnya 43 mahasiswa oleh para polisi korup di negara bagian Guerrero.

Carrillo Fuentes juga menjadi incaran pemerintah AS yang bahkan menyediakan hadiah 5 juta dolar bagi siapapun yang memberikan informasi untuk menangkap gembong narkoba ini.
Sementara itu, pemerintah Meksiko tak mau kalah dengan menjanjikan uang 2 juta dolar untuk informasi terkait sang pimpinan kartel itu. (
http://internasional.kompas.com/)

Minggu, 31 Agustus 2014

PBB Luncurkan Program untuk Lawan Penyelundupan Narkoba di Myanmar


Kantor Urusan Narkoba dan Kejahatan, PBB (UNODC) memulai sebuah program baru untuk membantu sistim penegakan hukum Myanmar untuk memberantas lebih baik lagi penyelundupan obat-obatan dan kejahatan lintas negara.
Seorang polisi Myanmar menyulutkan api ke tumpukan narkoba yang berhasil disita dan dimusnahkan pada acara Anti Penyelundupan Obat-obatan Sedunia, 26/6/2013.
Seorang polisi Myanmar menyulutkan api ke tumpukan narkoba yang berhasil disita dan dimusnahkan pada acara Anti Penyelundupan Obat-obatan Sedunia, 26/6/2013.


Kelompok HAM menyambut baik program tersebut sebagai sebuah cara untuk menangani kegiatan yang lolos dari hukuman atau kejahatan yang diperingatkan PBB merongrong upaya-upaya pembangunan Myanmar.
Program 45 juta dolar selama empat tahun dilakukan selagi Kantor Urusan Narkoba dan Kejahatan PBB (UNODC) mengatakan aktifitas kejahatan di Myanmar merongrong pembangunan negara itu, meningkatkan ketidak amanan manusia,  dan mengancam perundingan damai guna  mengakhiri pemberontakan etnis.
Wakil regional UNODC untuk Asia Tenggara dan Pasifik, Jeremy Douglas mengatakan pasar gelap menghasilkan jutaan dolar yang dicuci di bidang-bidang ekonomi lainnya dan mengancam masyarakat yang lebih luas.
“Pasar  gelap sangat besar di Myanmar utara yang utamanya digerakkan oleh narkoba, tapi ada banyak pelopor penyelundupan, ada bentuk-bentuk penyelundupan lain dan isu-isu antar negara yang menghasilkan pendapatan sangat besar, pendapatan yang tidak ditangani banyak orang dan pada saat yang sama uang itu harus dipindahkan dan harus sah. Jadi berdampak pada ekonomi yang sah,” kata Jeremy Douglas.
Meskipun ekonomi Myanmar telah berkembang dalam beberapa tahun terakhir, digerakkan oleh reformasi ekonomi dan politik, negara itu masih menghadapi tingginya tingkat korupsi pejabat. Kelompok pengamat Transparency International menempatkan  Myanmar sangat rendah di urutan ke 157 dari 177 negara.
Aktivis HAM mengatakan perdagangan candu dan narkoba telah menyebabkan sosok kuat posisinya makin kuat termasuk di parlemen. Aktivis HAM Myanmar, Debbie Stothard mengatakan peningkatan pengaruh orang-orang semacam itu menjadi alasan keprihatinan selagi ekonomi negara itu tumbuh.
“Banyak kroni-kroni yang masuk dalam daftar hitam dan menjadi tamu pengusaha internasional menjadikan diri mereka kaya karena korupsi  atau keterkaitan lain dengan kegiatan kejahatan. Apa yang kita saksikan sekarang adalah situasi dimana generasi penjahat, kejahatan terorganisasi di masa lalu, dalam bayak kasus menjadi terhormat pada rejim reformasi sekarang ini,” Debbie Stothard.
Stothard mengatakan orang-orang yang dekat dengan jaringan penyelundup narkoba Myanmar terpilih di parlemen dalam pemilu tahun 2010. Ia mengatakan ada kaitan antara orang-orang yang terpilih ini dengan kenaikan tingkat produksi candu.
UNODC melaporkan kenaikan 26 % produksi candu di Myanmar pada tahun 2013 menjadi 870 ton, berdasarkan peningkatan panen. (http://www.voaindonesia.com/)

Senin, 26 Mei 2014

Italia Masukkan Prostitusi dan Perdagangan Narkoba dalam Pendapatan Nasional

Italia telah mengumumkan akan mulai memasukkan pendapatan dari prostitusi dan perdagangan narkoba ilegal ke dalam perhitungan produk domestik bruto atau ‘GDP’ negaranya.Badan Pusat Statistik Italia mengatakan, mulai tahun depan, hasil perhitungan GDP negaranya akan meliputi nilai transaksi  narkotika dan alkohol di pasar gelap.
Perubahan ini disebabkan adanya aturan baru dalam Uni Eropa yang mensyaratkan negara-negara anggotanya untuk menghitung semua kegiatan yang berkontribusi pada pemasukan atau pendapatan nasional, terlepas dari status legalitasnya.
Badan statistik itu menjelaskan, karena prosedur ini, akhirnya, menjadi sangat sulit bagi Italia untuk tidak menyertakan aktivitas-aktivitas ilegal tersebut.
Pada tahun 2012, Bank Italia memperkirakan, nilai kejahatan ekonomi di negaranya mencapai 10,9% dari Produk Domestik Bruto (GDP).
Secara teori, data tersebut berarti bahwa hasil akhir perhitungan GDP Italia, dengan kalkulasi baru ini, akan meningkat tajam dari perkiraan pertumbuhan 1,3% yang dirilis pemerintah.
Sebelumnya, Pusat Statistik Uni Eropa ‘Eurostat’ memperkirakan, peningkatan GDP rata-rata di negara EU setelah adanya perhitungan baru ini bisa mencapai 2,4%.
Peningkatan tertinggi diperkirakan terjadi di Finlandia dan Swedia yang mecapai 4-5%, disusul Austria, Inggris, dan Belanda dengan 3-4%.
Sementara Italia diperkirakan mengalami peningkatan GDP sebesar 1-2%.
Transaksi para pengemplang pajak juga telah disertakan ke dalam produk domestik bruto (GDP) Italia dan diperkirakan mengambil bagian 16,3-17,5% dari perekonomian Italia di tahun 2008 – tahun terakhir perhitungan GDP disusun. (www.tribunnews.com)

Rabu, 20 Maret 2013

Belajar mencium ganja untuk membantu polisi


Ganja
Penanaman ganja di rumah-rumah meningkat 15% dibanding tahun 2011.
Kepolisian Inggris dan lembaga sosial Crimestoppers meminta masyarakat umum melaporkan tanaman ganja di daerah perumahan.
Sebuah brosur berisi informasi tentang cara mencium ganja disebarkan untuk membantu warga umum bisa mengetahui keberadaan tanaman ganja.
Langkah itu ditempuh untuk menanggapi meningkatnya tanaman ganja yang ditanam di halaman rumah secara diam-diam.
Menurut polisi kenaikan 'pabrik' ganja di Inggris sepanjang tahun 2012 mencapai 15% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Untuk menanam ganja, orang menggunakan alat pemanas yang sering menyebabkan kebakaran dan sering sekali listrik diambil secara ilegal dari sumber listrik utama.
London, Leeds, Sheffield dan Bristol termasuk dalam 13 wilayah yang dianggap panas karena banyak tanaman ganja gelap.
Di wilayah London, misalnya, polisi berhasil menemukan 1.600 perkebunan ganja sepanjang tahun 2010-2012.

Orang datang dan pergi

Direktur Operasi Crimestopoers, Roger Critchell, mengatakan brosur disebarkan karena banyak orang yang tidak tahu bahwa ada perkebunan ganja di sekitar tempat tinggalnya.
"Mereka juga tidak menyadari kaitan erat antara kejahatan ini (menanam ganja) dengan kejahatan terorganisir yang serius," tambahnya.
Critchell mengatakan bahwa ganja bisa ditanam di lantai atas sebuah rumah atau di lantai bawah dan biasanya ada yang menjaga rumah yang menjadi 'pabrik' ganja itu.
Para warga juga diminta untuk mengamati gerak gerik yang terjadi dalam rumah disekitar mereka.
"Yang paling kentara adalah orang datang dan pergi dan mereka yang tinggal di dalam rumah itu bukan yang mengendalikan rumah. Hal itulah yang bisa membuat Anda menyadarinya. Yang tinggal di situ tidak pernah ke luar rumah namun orang-datang dan pergi," tambahnya.
Prakarsa untuk meminta bantuan masyarakat ini dimulai pertama kali di Belanda tiga tahun lalu dengan penyebaraan 30.000 lembar kartu informasi.

  |  Sumber: BBC Indonesia