ad

Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 September 2014

Awalnya Jadi Korban, Kini Ungkap Ribuan Situs Penipuan


KHAWATIR DITEROR: Erwan Saputra bersembunyi di balik laptop. Dia juga menunjukkan situs polisionline.com yang dikendalikannya. Foto: Gunawan Sutanto/Jawa Pos
KHAWATIR DITEROR: Erwan Saputra bersembunyi di balik laptop. Dia juga menunjukkan situs polisionline.com yang dikendalikannya. Foto: Gunawan Sutanto/Jawa Pos
LAPTOP15 inci menemani Erwan Saputra bekerja malam itu (27/8/2014). Dia sedang berlibur ke Jakarta dan menumpang di rumah susun temannya di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Selatan. Malam itu dia sedang mengecek satu per satu surel (surat elektronik) yang masuk ke inbox-nya.

’’Hari ini saya mulai kembali aktif setelah libur Lebaran. Banyak e-mail permintaan verifikasi situs jual beli yang belum saya tindak lanjuti,’’ papar mahasiswa Teknik Informatika Stimik Asia, Malang, itu.

Kebanyakan e-mail yang masuk berasal dari pemilik situs jual beli online. Mereka meminta toko maya-nya diverifikasi sebagai situs jual beli tepercaya. Beberapa pengirim e-mail lainnya menanyakan keaslian sebuah toko online yang akan diajak bertransaksi.
Aktivitas seperti itulah yang setiap hari dilakoni Erwan. Sejak Februari 2013, dia mendirikan situs polisionline.com. Situs itu memuat database ribuan toko online. Baik yang terverifikasi sebagai website jual asli maupun yang bermodus tipu-tipu.
Pemuda 23 tahun tersebut mendirikan polisionline.com karena tidak ingin semakin banyak orang yang bernasib seperti dirinya, yakni menjadi korban penipuan jual beli online. Pada akhir 2010, Erwan memang tertipu situs yang menawarkan laptop berharga murah.
’’Ketika itu saya coba bisnis jual beli laptop. Seorang teman memberi tahu ada yang jual laptop murah lewat Facebook,’’ kenangnya.
Laptop yang ditawarkan penipu itu dihargai Rp 4 juta, padahal di pasaran mencapai Rp 15 juta. Tergiur harga yang supermurah dan awamnya pengetahuan seputar jual beli online, Erwan pun cepat-cepat bertransaksi.
’’Saya percaya karena dia ngaku laptop itu black market. Saya tambah tertarik setelah harganya bisa saya nego menjadi Rp 3 juta,’’ ungkapnya.
Awalnya si penipu meminta transfer uang yang telah disepakati. Setelah itu, barang akan dikirim. Tapi, barang belum diterima, Erwan kembali diminta mentransfer uang karena terjadi kekeliruan dalam pengiriman. Penipu menyebutkan, ada dua unit barang yang dikirim kepada Erwan nanti.
Karena begitu meyakinkan, Erwan sampai tidak curiga sama sekali bahwa dirinya sedang ditipu mentah-mentah. ’’Total saya transfer Rp 6 juta plus pulsa kepada orang itu,’’ ujarnya.
Tapi, barang belum sampai, si penipu beraksi lagi. Dia mengabarkan bahwa barang pesanan Erwan tertahan di bea cukai. Si penipu menyatakan sanggup mengembalikan uang Erwan. Namun, dia meminta nomor rekening bank teman Erwan dengan alasan rekening Erwan tidak bisa ditransferi uang.
’’Ternyata, itu adalah trik dia agar seolah-olah teman saya yang membohongi saya dengan mengatakan tidak ada transferan dari si penipu,’’ jelasnya.
Setelah ditunggu-tunggu, Erwan akhirnya sadar bahwa dirinya telah menjadi korban penipuan bisnis online. Dia pun malu menceritakan kejadian itu kepada temannya. Begitu pula kepada orang tuanya di Pekanbaru, Riau.
’’Saya juga malas lapor polisi karena pasti hanya akan dapat surat laporan. Ternyata, yang saya alami itu juga dialami banyak orang lain. Ceritanya juga hampir sama,’’ tutur lulusan Pondok Pesantren Gontor tersebut.
Belajar dari kejadian itu, Erwan berinisiatif ’’melawan’’ para penipu tersebut. Dia tidak ingin makin banyak korban berjatuhan. Karena itu, berbekal ilmu TI (teknologi informasi) yang dipelajarinya di kampus, dia membuat situs online yang bisa memverifikasi toko-toko online yang biasa bertransaksi lewat dunia maya. Situs itu berisi ribuan toko online, baik yang ’’resmi’’ maupun abal-abal.
’’Saya membuat ini karena kebanyakan korban penipuan malas lapor ke polisi. Kalaupun lapor, berapa yang ditindaklanjuti? Karena itu, saya buat database ini untuk membantu orang yang bermaksud bertransaksi lewat online agar terhindar dari upaya penipuan,’’ paparnya.
Lantas, terbentuklah polisionline.com sebagai pionir situs penyedia database toko online se-Indonesia. Awalnya tidak mudah melakukan verifikasi situs jual beli. Tidak sedikit e-mail penawaran verifikasi yang dikirim Erwan ke sejumlah toko online yang tidak berbalas. Meski begitu, dia tetap bersemangat mencari sendiri toko online yang layak dilabeli tepercaya dan yang palsu.
Dari hari ke hari, makin banyak orang yang datang ke polisionline.com untuk mencari rujukan situs jual beli. Saat itulah mulai ada toko online yang mengajukan diri untuk diverifikasi. Dalam sehari, minimal ada 7–10 permintaan verifikasi dari pemilik toko online.
Untuk mempertahankan kredibilitasnya, Erwan tidak meminta uang dari proses itu. ’’Saya mengajukan syarat yang ketat dan tidak mau dibayar dalam memverifikasi sebuah toko online,’’ ujarnya sembari menunjukkan proses verifikasi tersebut.
Syarat utama yang harus dipenuhi, pemilik toko harus mengirimkan copy sejumlah identitas. Identitas itu harus di-scan atau difoto dalam satu frame.
’’Syarat scan identitas seperti itu hanya salah satu teknis untuk menghindari digital imaging,’’ jelasnya.
Selain meminta copy identitas, Erwan diam-diam menelusuri nomor telepon yang dicantumkan si pemilik. Dia juga kadang mengecek proses registrasi domain-nya.
Toko online yang terverifikasi diberi banner yang bisa dipasang di situsnya.Jika diklik, banner itu akan mengarah ke laman polisionline.com yang berisi data verifikasi situs yang bersangkutan.
Saking berpengalamannya menemukan toko online abal-abal, Erwan sampai hafal hanya dengan melihat sepintas tampilan sebuah situs.
’’Sering ada kesamaan di antara situs penipuan. Baik itu themes, desain konten, hingga isi penawarannya,’’ jelasnya.
Dia sempat menunjukkan contoh sejumlah situs penipuan yang memiliki kesamaan itu. Menurut dia, toko online penipuan juga mengikuti perkembangan. Jika dulu kebanyakan situs penipuan menggunakan fasilitas gratisan (baik domain maupun hosting), sekarang tidak lagi.
Banyak penipu yang bersedia mengeluarkan uang untuk membeli domain dan hosting agar dikira kredibel. ’’Bahkan, ada yang menggunakan domain .co.id yang pendaftarannya menggunakan SIUP dan NPWP,’’ terangnya.
Dari upaya mengungkap praktik penipuan selama ini, Erwan tidak jarang mengalami teror dari para pelaku. Misalnya, dia pernah menjadi korban SMS blasting.
Seseorang yang diduga sebagai salah seorang pelaku penipuan situs online mengirimkan SMS ke banyak nomor dan mengumpat-umpat. Pada akhir SMS, dicantumkan nomor telepon operasional polisionline.com.
’’Akhirnya, nomor saya menjadi sasaran amuk banyak orang. Ada juga yang mengancam akan melaporkan saya ke polisi karena situsnya saya masukkan ke daftar penipuan,’’ ujarnya.
Lantaran banyak teror itu, Erwan tidak mau menonjolkan sosoknya. Terutama di kampus. Polisionline.com mendapat banyak respons positif dari masyarakat.
Bahkan, sejumlah instansi mendukung gerakan tersebut. Hal itu terlihat dari banyaknya banner di halaman depan situs tersebut. ’’Mereka itulah yang memberi saya semangat untuk terus mengembangkan polisionline.com ini,’’ ucapnya. (www.jpnn.com)

Sabtu, 05 Juli 2014

Mati Ketawa Cara Arab

Pada masa represif, tertawa bisa menjadi tindakan paling subversif. Seorang satiris Arab dibungkam karena mengajak orang tertawa. Ia menjadi superstar Global Media Forum 2014.

Hari-hari belakangan ini, hidup terasa semakin berat bagi rakyat Mesir. Kekerasan demi kekerasan, harga-harga yang terus melambung, dan kebencian yang terus disebarkan, membuat mereka tak lagi yakin tentang arah perubahan.
Pada masa sulit inilah, seorang satiris muncul. Bassem Youssef, seorang dokter ahli bedah jantung mengajak orang menertawakan apa saja: diri sendiri maupun kekuasaan.
Al-Bernameg atau Program, demikian nama acara satir berita TV yang ia bawakan, setiap episode disaksikan lebih dari 30 juta orang. Ia memecahkan rekor paling banyak dilihat di kanal YouTube, dengan jumlah penonton lebih dari 200 juta penonton. Tahun ini, ia datang ke Bonn sebagaisuperstar Global Media Forum yang diselenggarakan Deutsche Welle.
Menertawakan para Islamis
Pada masa ketika kelompok Ikhwanul Muslimin berkuasa, Bassem dipandang sebagai ancaman.
Ia sempat digugat dengan tuduhan menghina presiden Mohamed Mursi dan Islam. Saat diperiksa, Bassem sempat-sempatnya mengirim tweet menjelaskan kepada para followernya bahwa dia ditangkap karena polisi dan jaksa ingin berfoto bersama dirinya.
Bassem Youssef disebut sebagai Jon Stewart versi Arab. Pada suatu ketika, ia diundang sebagai tamu acara satir terkenal Amerika itu dan ditanya pandangannya tentang Ikhwanul Muslimin. Sambil merenung ke arah host ia berkata ”Mereka insecure… (masih) terperangkap di usia remaja. Mereka masih berjerawat dan sibuk dengan…saya tidak tahu…tubuh mereka yang berbulu…"
Pada sebuah episode Program lainnya, ia mengatakan ingin membahas pernyataan presiden. Pada layar lalu muncul foto Mohammed Badei, yang langsung diralat dengan panik oleh Bassem “Bukan, bukan dia, sialan… bukan dia.” Dengan cara jenaka, Bassem ingin menyindir bahwa “presiden Mesir sesungguhnya” adalah penasihat spiritual Ikhwanul Muslimin tersebut bukan Mohamed Mursi.
Tertawa dan rasa takut
Bassem Youssef bisa menertawai siapa saja, termasuk mereka yang menggunakan agama untuk menakut-nakuti orang lain.
Pilihannya untuk melawan kelompok Islamis Mesir lewat lelucon, bisa jadi mengingatkan kita pada “In The Name of the Rose”. Ada sebuah dialog, dimana William of Baskerville -- tokoh utamamagnum opus Umberto Eco itu -- bertanya kepada Jorge de Burgos, pastor fanatik yang membunuh para biarawan yang membaca kitab humor: "Apa yang menakutkan dari tertawa?“
Burgos, sang bigot menjawab: “Tertawa membunuh rasa takut. Tanpa rasa takut tidak ada Iman. Kalau manusia tidak lagi takut… mereka tidak lagi butuh Tuhan“.
Hubungan tertawa dengan rasa takut itulah yang menjadi tema utama Bassem ketika berbicara di Bonn.
“Rasa takut adalah senjata untuk mengintimidasi orang lain,” kata Bassem sambil menambahkan bahwa rasa takut membuat orang menjauh dari rasionalitas.
“Satir dan komedi adalah antidote melawan rasa takut.“
Ketika anda tertawa, kata Bassem, anda tak akan lagi merasa takut.
Lelucon menertawakan dunia yang retak, sementara kaum fanatik ingin menegakkan kesempurnaan. Itulah yang menjelaskan kenapa kelompok Islamis di Mesir membenci Bassem yang suka cengar cengir di depan kamera dengan tatapan nakal mengejek.
Meski, Bassem berterimakasih kepada mereka, para pendukung Ikhwanul Muslimin dan kaum Salafi, yang ia sebut ikut berpartisipasi menaikkan rating acaranya.
Kini musuh Bassem bertambah. Setelah rezim Islamis tumbang, kini rezim militer yang berkuasa juga melihat ia sebagai ancaman. Acaranya satirnya di televisi dilarang.
Tapi, Bassem tidak takut. Ia berjanji akan terus menularkan keberanian kepada banyak orang untuk menertawakan kekuasaan yang absolut. Tak hanya di Mesir, tapi juga dunia Arab yang sedang bergelut dengan kebebasan.
Bassem Youssef lewat humor-humornya, mengingatkan kita pada buku terkenal era perang dingin "Mati Ketawa Cara Rusia" yang berisi jokes yang mengolok-olok rezim Komunis. Dengan cara yang sama, kini Bassem mengajak kita mati tertawa cara Arab.

DW.DE

Sabtu, 31 Mei 2014

Bongkar Kematian Direktur Palsu hingga Kasus Klaim 2 Jari Putus

* Warsito Sanyoto, Spesialis Tangani Kejahatan Asuransi
 




Perusahaan asuransi sangat akrab dengan nama Warsito Sanyoto. Dia adalah insurance investigator ternama, yang berkali-kali menggagalkan klaim asuransi bernilai ratusan juta hingga puluhan miliar rupiah. Tentu saja yang digagalkan ini adalah kasus rekayasa ala mafia, yang dirancang begitu baik. Meski dibayar mahal, risiko maut kerap menghampiri.
 

 
RUMAH Warsito Sanyoto di kawasan Taman Radio Dalam, Jakarta, memang terkesan mewah. Rumah bergaya Italia tersebut dipenuhi beragam perabot khas Negeri Pizza. Meski begitu, pria asli Solo, Jawa Tengah, itu tetap tidak bisa melupakan tanah kelahirannya. Dia memberikan sentuhan Jawa dalam dekorasi. Misalnya, ada ukiran Jepara dan Kudus yang menghiasi rumah pengacara 69 tahun tersebut.

"Saya memang suka dengan apapun yang bergaya Italia, tapi saya juga selalu menyelipkan beberapa dekorasi Jawa," ujar Warsito saat ditemui media ini, belum lama ini.

Yang juga menarik, hampir di setiap sudut rumahnya terdapat patung macan. Warna merah dan emas mendominasi cat ruangan-ruangannya. Menurut pria kelahiran 9 Desember itu, warna merah-emas serta keberadaan patung macan itu mencerminkan karakter dan kepribadiannya.

"Merah kan berani. Kalau macan, garang. Keduanya mewakili karakter saya," katanya lantas terbahak.

Selain pengacara, Warsito adalah insurance investigator atau insurance advisor. Profesi itu tergolong langka di Indonesia. Sebagai insurance investigator, dia secara khusus menangani kasus-kasus kejahatan asuransi. Biasanya dia disewa perusahaan-perusahaan asuransi untuk menyelidiki ada tidaknya rekayasa dalam klaim yang diajukan klien.

"Tugas saya menyelidiki kejadian-kejadian yang dituntut oleh klien atau tertanggung, apakah kejadian itu murni kecelakaan atau hasil rekayasa. Kalau saya merekomendasikan murni kecelakaan, perusahaan asuransi wajib membayar klaim. Tapi, kalau saya bilang itu rekayasa, perusahaan tidak perlu membayar tertanggung," urainya.

Warsito yang sudah bertahun-tahun menggeluti profesi insurance investigator itu mengatakan, modus kejahatan asuransi di Indonesia cukup beragam. Bahkan, modusnya sudah menjadi kejahatan yang terorganisasi.

"Sampai ada sindikat kejahatan asuransi di Indonesia. Mereka ahli dalam merekayasa klaim asuransi," ungkap Warsito.

Sindikat tersebut biasanya piawai memetakan berbagai modus rekayasa klaim. Mereka terorganisasi dengan baik. Ada yang bertugas memalsukan surat dokter, ada yang mencari korban, dan ada pula penyandang dana untuk membayar polis asuransinya. Itu sudah terencana secara rapi.

"Mereka orang-orang yang terbiasa melakukan hal ini," lanjutnya.

Warsito memaparkan, modus kejahatan asuransi biasanya menyasar nilai klaim yang mencapai ratusan juta hingga miliaran rupiah. Karena itu, banyak pihak yang rela merekayasa kasus untuk mendapatkan klaim dengan jumlah sangat besar itu. Bahkan, mereka tidak segan menghabisi nyawa orang lain agar bisa mencairkan klaim asuransinya.

Doktor dari Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) itu mencontohkan kasus kematian palsu yang pernah ditanganinya. Di Bagan Siapiapi, Riau, seseorang sebut saja “Tukijo" mendadak diasuransikan jiwanya oleh sebuah perusahaan X. Padahal, Tukijo yang termasuk miskin itu tidak tahu apa-apa. Dia digambarkan sebagai direktur perusahaan X tersebut. Karena itu, nilai premi asuransinya besar.

Selama tiga-empat bulan hidup Tukijo ditanggung penuh oleh perusahaan. Bahkan, dia dibuatkan rekening tersendiri untuk menghadapi segala kemungkinan bila meninggal nanti. Skenario berikutnya, sindikat itu menghabisi Tukijo.

Biar terkesan kematiannya wajar, Tukijo seolah-olah terjatuh dari kereta yang ditumpanginya. Padahal, yang sebenarnya, dia dibunuh dengan cara didorong dari dalam gerbong oleh anggota sindikat itu. Dari situ pihak asuransi mau tidak mau membayar klaim asuransi atas nama Tukijo. Uang klaim itu akan dinikmati direktur asli perusahaan tersebut.

"Tapi, keburu terbongkar. Saya melihat ada yang janggal dalam kasus itu; direktur kok naik kereta. Setelah kami telusuri, akhirnya terungkap bahwa Tukijo bukan direktur perusahaan X. Dia orang miskin yang dibayar untuk menyamar menjadi direktur," cerita Warsito.

Menurut pria penghobi jetski ini, sangat banyak kasus serupa terjadi di Indonesia. Misalnya, seorang pengangguran diasuransikan oleh pemilik perusahaan penyewaan komputer. Lagi-lagi dia difigurkan sebagai direktur. Untuk meyakinkan, dia didandani perlente mirip bos. Dia juga disewakan rumah mewah di kawasan Kalideres.

"Jadi, memang semuanya sudah disiapkan dengan terencana dan rapi," katanya.

Suatu hari "direktur" itu dibawa ke rumah sakit. Dua jarinya putus karena terpotong pisau daging. Atas kejadian itu, dia menuntut perusahaan asuransi membayar klaimnya. Nilai klaim yang diajukan sekitar Rp 600 juta.

Namun, sebelum membayar klaim, perusahaan asuransi menyewa jasa Warsito. Detektif kejahatan asuransi itu pun mencium adanya kejanggalan dalam kasus tersebut. Dia lantas melakukan reka ulang dengan menggunakan sarung tangan disposable (sekali buang). Sarung tangan tersebut diisi kapas sehingga mirip tangan yang sesungguhnya.

"Setelah saya uji coba sampai 55 kali, terbongkarlah rekayasa itu. Semestinya yang terpotong tidak hanya dua jari, tapi tiga jari sekaligus. Dan, terbukti bahwa itu sengaja dipotong. Untuk menahan sakit, direktur abal-abal itu dibius dahulu oleh algojonya. Bahkan, semula, kelima jarinya mau dipotong, tapi ternyata si direktur sudah tak kuat menahan sakit. Akhirnya hanya dua jari yang dipotong," paparnya.

Di samping pemalsuan kematian atau kecacatan, lanjut Warsito, perusahaan-perusahaan besar juga kerap melakukan penipuan klaim asuransi dengan modus kebakaran pabrik atau penenggelaman kapal kargo. Dia mencontohkan kasus tenggelamnya kapal di wilayah perairan Jakarta. Kapal beserta isinya itu telah diasuransikan.

Menurut keterangan pemilik kargo, kapal itu berisi barang-barang berharga. Ada pula banyak unit sepeda motor. Namun, saat kapal di-refloating (diapungkan), muatannya ternyata tidak sesuai dengan yang dilaporkan perusahaan.

"Isinya cuma karpet-karpet bekas yang digulung-gulung. Ada juga ban-ban bekas yang dimasukkan ke dalam peti," urainya.

Untuk menelusuri unsur kesengajaan dalam penenggelaman kapal, Warsito mengamati sekitar wilayah tenggelamnya kapal terlebih dahulu. Dalam penyelidikan itu dia didukung sejumlah peralatan canggih. Misalnya, kacamata kamera pengintai dan alat dengar jarak jauh. Bahkan, dia harus membayar orang untuk menyelidiki di lapangan. “Detektif-detektif” inilah yang kemudian memasok informasi-informasi penting bagi Warsito untuk membongkar kasus.

"Akhirnya ketahuan yang menenggelamkan kapal itu ternyata orang-orang yang pekerjaannya memang seperti itu (sindikat kejahatan asuransi)," paparnya.

Ada juga kasus pembakaran pabrik yang direkayasa. Pria yang sebelumnya jadi caleg DPR dari Partai Gerindra itu mengisahkan, ada sebuah pabrik tripleks yang terbakar. Menurut pihak perusahaan, bahan baku tripleks terbakar habis. Namun, pihak asuransi tidak langsung percaya. Mereka lalu menyewa Warsito.

Langkah pertama, Warsito memeriksa pembukuan perusahaan tersebut untuk mengetahui apakah mereka membeli bahan baku sejumlah yang dilaporkan. Selanjutnya, dia mengecek berat abu dari bahan baku yang terbakar. Menurut dia, ada perhitungan tertentu antara berat abu yang ditimbang dan jumlah bahan baku yang terbakar.

"Kalau berat abunya 100 kilogram, sementara perusahaan mengklaim bahan baku tripleks yang terbakar mencapai 8.000 ton, itu sudah kelihatan bohongnya. Benar, setelah kami telusuri, ternyata yang dibakar bahan baku bekas dan tidak terpakai," katanya.

Bagi Warsito, menangani kasus kejahatan asuransi cukup mengasyikkan. Sudah tidak terhitung banyaknya kasus kejahatan asuransi yang dia tangani. Padahal, untuk mengungkap sebuah kasus dibutuhkan waktu yang tidak sebentar.

"Paling cepat sebulan, tapi ada juga yang sampai enam bulan. Kalau lama, itu karena kasusnya ruwet dan melibatkan mafia," ujarnya.

Di samping waktunya yang lama, pekerjaan Warsito mengancam jiwa. Dia dan keluarga mengaku sudah kenyang menerima ancaman dari pihak yang tengah diselidiki. Bentuknya melalui telepon, surat kaleng, sampai bingkisan berisi tikus mati yang dikirimkan ke kediaman Warsito. Karena itu, semua anaknya memiliki pengawal pribadi.

Awal mula Warsito tertarik dengan seluk-beluk kejahatan asuransi adalah ketika bekerja di bidang asuransi. Setelah meraih gelar sarjana muda jurusan hukum di Universitas Airlangga pada 1969, dia bekerja di sebuah perusahaan asuransi.

Bahkan, Warsito sempat menjadi kepala cabang di Jember. Sembari bekerja, dia meneruskan sekolah hingga jenjang S-1 di Universitas Negeri Jember. Pada 1975 dia memutuskan pindah ke Jakarta. Dia bekerja di Bank Bumidaya dan ditempatkan di bagian asuransi. Dalam waktu yang sama, dia melanjutkan studi S-2 di Fakultas Hukum UGM. Tidak lama kemudian, Warsito memutuskan keluar dari bank itu untuk mendalami bidang hukum, khususnya terkait kejahatan asuransi.

"Kalau saya pilih hukum pidana atau perdata, sudah banyak. Karena itu, saya pilih yang langka, hukum asuransi. Sampai sekarang masih jarang yang menekuni bidang ini karena memang rumit dan risikonya tinggi," tandas Warsito. (www.jpnn.com)
 
 

Sabtu, 20 Juli 2013

Sri Rachma Chandrawati, SH


 
"Mari kita teguhkan Iman, dan kembali pada jalan Hukum yang benar, yang paling sulit melawan diri sendiri dan menerima kenyataan,".


SOSOK - Ketua Umum Pusat Organisasi Profesi Ikatan Notaris Indonesia, DPP-INI, hasil Kongres XX1 di Balai Sudirman Jakarta priode 2012-2015. Sri Rachma Chandrawati, SH. ditemui di kantornya yang beralamat di Senopati Raya Jakarta Selatan, Senin (27/5).

Bahwa dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga AD/ART DPP-(INI) sudah sukseskan dan menjalankan roda organisasi dalam Kongres XX1 pada tangal 25-28 Januari 2012 di Jogyakarta, dan walaupun sempat deadlok' namun akhirnya Kongres dilanjutkan di Balai Sudirman Jakarta 2012. Dan telah di syahkan dan nyatakan yang sebagai pengurus organisasi profesi yang menaungi hampir 13.000 anggota Notaris lebih di Seluruh Indonesia hingga hari ini.

Kepada pewarta BeritaHUKUM.com H Putra Darus, Sri Rachma meluangkan waktu di tengah kesibukanya yang padat, untuk menjawab mengenai adanya sebagian pengurus yang kecewa, dan mengadakan Kongres Luar Biasa (KLB) di Hotel Patra Bali pada Jum'at (24/5) yang lalu. Sri Rachma Perempuan kelahiran 18 Januari 1958 di Ponorogo Jawa Timur ini menjawab dengan santai.

"Meskipun itu judulnya kongres luar biasa, namun syarat dan AD/ART organisasi tidak terpenuhi oleh mereka, dan mereka itu mengangap bahwa ketua Pengwil, dan menunjuk Pengwil Bali sebagai Panitia. Namun Pengwil mana mereka hanya mewakili pribadi-pribadi mereka saja, mereka orang-orang yang sejak Kongres di NTB lalu orang yang sakit hati pada saya sejak lama," jelas Rachma.

Sri Rachma juga menjelaskan siapa siapa saja mereka yang di maksud, bahwa pada awalnya ada 19 Presidium yang lari dari tangung jawabnya saat selepas Kongres XXI di Balai Sudirman Jakarta 2012. Saat dirinya terpilih secara sah sesuai dengan syarat Kongres dalam AD/ART organisasi, saat itu suasana sangat kondusif baik, ada voting, dan musyawarah, seharusnya itu yang terjadi. Namun kan tidak seperti itu yang mereka mau, mereka melakukan lagi KLB Bali, hanya ego-ego mereka saja," ujar Rachma yang merupakan Alumni Fakultas Hukum UGM Yogyakarta ini, dan melanjutkan pendidikan ke Notariatanya pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Di jelaskanya lebih jauh, bila diputuskan di dalam Kongres, maka putusan akan kita akui, namun bila hal-hal di lakukan luar AD/ART organisasi, dan ada agenda serta kepentingan pribadi mereka dan kepentingan kelompok mereka, ini jelas sudah tidak benar/ ilegal. kepada pihak Pemerintah saya meminta kami ini menyumbang pemasukan pajak, dan kami semua memiliki NPWP, namun pemerintah jangan mengangap organisasi profesi Notaris sebelah mata kepada kita, sejauh ini kita sudah memberi kontribusi positif untuk kemajuan Bangsa dan Negara Indonesia yang kita cintai, kita sebagai pejabat umum yang langsung berhadapan pada berbagai lapisan masyarakat.

"Seharusnya pihak pemerintah bisa melayani kita dengan bijaksana. Sebagai pembantu Presiden seharusnya dapat menjalakan tugas dan fungsi dengan baik, dan jangan melemparkan masalah kepada Presiden. Dan bila tidak siap menjabat sebagai Menteri yang bijak dan arif, ya silahkan saja mundur," ujar Rachma.

Di tambahkanya lagi, bila merasa tidak siap dengan sistem yang sudah ada di Kementerian, kan masih ada Dirjend, Deputi, di Kementerian yang seharusnya masalah iternal seperti ini di organisasi profesi dapat di selesaikan dengan bijak dan arif, bukan menambah memperkeruh suasana. Saya mempunyai niat dan berbuat baik bagi rekan-rekan Notaris di Indonesia, saya merasa terpangil untuk berbenah. Bahwa organisasi profesi menjadi seorang Notaris harus bermartabat.

Insyaallah saat ini kita ada 10 Pemuda Pemudi yang fokus membantu saya, dan kita ingin berbenah kedepan dalam menjalankan organisasi profesi ini, karena hukum adalah segalanya, kita memberikan pelayanan hukum pada masyarakat luas.

Sri Rachma juga mengajak dan mengingatkan kepada rekan-rekan Notaris yang lain di seluruh Indonesia, "mari kita hentikan masalah internal kita, masalah pribadi jangan kita bawa ke dalam organisasi, jangan kita korbankan organisasi besar ini. Kalau kita tidak mulai dari sekarang, maka kita sendiri yang akan terpuruk, dan bila kita terus berseteru maka akan menguntungkan pihak ketiga. Mari kita teguhkan iman, dan kembali pada jalan hukum yang benar, yang paling sulit melawan diri sendiri dan menerima kenyataan," tegas Ibu yang memiliki Putra tunggal Agung Priyo Hutomo.

Di ingatkanya kembali organisasi kita (INI) memberikan kepastian hukum pada masyarakat, mari kita hentikan masalah internal ini, dan berpadu untuk kedepan, kita berbuat lebih baik.

Sri Rachma Sosok Wanita karir yang banyak mendapatkan penghargan yang diantaranya dari Pemerintah Indonesia, salah satunya adalah Kartini Award pada tahun 2000, Citra Wanita Indonesia Berkepribadian Kartini. Juga pada tahun 2009 menjadi salah satu dari 100 perempuan Indonesia Terinspirasi. Serta berbagai pengahargan lainya dari dalam dan luar Negeri.

Dalam perjalanan karirnya berorganisasinya, Sri Rachma telah banyak suka dan dukanya dalam berorganisasi, Sri Rachma juga sempat sukses di organisasi Pejabat Pembuat Akta Tanah yang menjabat sebagai Ketua Umum PP-IPPAT priode 2007 -2010 pada dua priode hingga tahun 2010-2013.

Selain itu juga Sri Rachma sebagai Ketua Umum Pejabat Lelang Kelas II (IPLE1) dimana ia adalah Istri dari Ir. Hardiyanto Hoesodo, memulai karir dalam organisasi sebagai Sekertaris II pengurus daerah INI Semarang periode 1993-1996. Bendahara Wilayah INI Jawa Tengah periode 1996-1999. Sekertaris II pengurus Daerah INI Jakarta Selatan periode 1999-2003. Ketua Pengurus Jakarta Selatan periode 2003-2006. Sekertaris Pengurus Pusat INI periode 2006-2009. Dan Ketua Umum PP-INI perionde 2012 hingga 2015 mendatang.

Kamis, 18 Juli 2013

Nakhoda Baru Komisi Yudisial

KOMISI Yudisial (KY) baru saja memilih pemimpin baru. Lembaga pengawas para hakim itu kini dipimpin Suparman Marzuki. Dia menggantikan Eman Suparman yang sudah 2,5 tahun menjadi ketua KY. Pria kelahiran 2 Maret 1961 tersebut sebelumnya menjabat ketua bidang pengawasan hakim dan investigasi. Suparman akan dibantu Abbas Said sebagai wakil ketua KY.

Sosok Suparman yang dikenal tegas dan berani membawa harapan besar bagi KY. Sebelum menjadi komisioner KY, kiprah Suparman di dunia hukum sudah tidak diragukan. Apalagi, dia lahir dari kampus yang melahirkan banyak pendekar hukum, yakni Universitas Islam Indonesia (UII).

Selain Suparman, banyak tokoh di bidang hukum yang lahir dari perguruan tinggi tertua di Indonesia itu. Mereka, antara lain, Mahfud M.D. (mantan ketua Mahkamah Konstitusi), Busyro Muqqodas (wakil ketua KPK dan mantan ketua KPK), Darmono (mantan wakil jaksa agung), Abdul Haris Semendawai (ketua LPSK), Ifdal Kasim (mantan ketua Komnas HAM), Siti Noor Laila (ketua Komnas HAM), serta Artidjo Alkostar (hakim MA).

Nama Suparman sudah cukup dikenal sejak dia menjadi direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) UII yang kerap mengadvokasi kasus-kasus prodeo. Kemudian, dia juga pernah menjabat direktur Pusat Studi Hak Asasi Manusia (Pusham) UII.

Hanya, gaya Suparman yang ceplas-ceplos kadang-kadang membuat beberapa pihak meradang. Suparman pernah disomasi dan dilaporkan ke polisi atas pen­cemaran nama baik oleh MA gara-gara pernyataannya yang kontroversial. Saat itu, Suparman menyatakan, untuk menjadi kuasa hakim di Jakarta, ditetapkan banderol Rp 300 juta. Selain itu, untuk menjadi ketua pengadilan negeri, harus membayar Rp 175 juta.

Selama 2,5 tahun ke depan, Suparman dan Abbas harus bisa membawa KY lebih baik daripada Erman Suparman-ImamAnshori Saleh. Modal keberanian yang dimiliki harus bisa membuat KY lebih bertaring. Setidaknya tidak lagi diabaikan MA. Prestasi KY saat dipimpin Eman memang sudah cukup melegakan. Salah satu momen yang membekas adalah keberhasilan KY menggelar sidang majelis kehormatan terhadap hakim agung Achmad Yamanie yang memalsukan vonis bandar narkoba Hangky Gunawan.

Terobosan KY tersebut membuat Yamanie menjadi hakim MA pertama yang dipecat dengan tidak hormat. Sebagai lembaga yang juga bertugas menyeleksi hakim agung, KY harus mampu menjamin bahwa hakim agung yang terpilih benarbenar bersih dan kredibel. Kalau hakim agung yang terpilih bersih serta berintegritas, tentu upaya untuk melakukan perubahan di tubuh MA bisa mejadi kenyataan. Setidaknya, harus ada beberapa hakim agung sekaliber Artidjo Alkostar lagi di MA.

Selama ini, MA menjadi lembaga yang begitu bobrok. Semua orang tahu bahwa berurusan dengan MA begitu menjengkelkan. Salinan putusan MA bisa bertahun-tahun baru dikirim ke pihak-pihak yang beperkara. KY harus bisa membongkar mafia peradilan di MA dan di lembaga peradilan yang lain. (*)