ad

Tampilkan postingan dengan label mlancong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mlancong. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juni 2014

Wisata dalam Penjara


Keindahan Pinggir Pantai Memang menjadi Pesona dan daya tarik tersendiri bagi para penikmat alam sehingga pantaslah Kebiasaan berdiam dan memandang lepas pantai di sebut rekreasi, tetapi ada yang menarik ketika menyebut pesona wisata yang satu ini , Pantai Pidana, Sebuah nama yang sangat jauh berbeda dengan Hakikat Rekreasi, Lepas Pantai Dengan Luar sekitar 4000m itu di huni oleh narapidana dari Rutan Selong, Keseharian Narapidana itu adalah mebersihkan Lingkungan Sekitar pantai kemudian menyabit rumput dan memeberi makan sapi-sapi piaraan. memotret kondisi keseharian tersebut beberapa hari yang lalu saya sempat memasuki areal pantai Pidana dan mencob menikmati pesona alamnya yang cukup indah, wilayah pantai dengan jarak 10 km dari pusat ibukota kabupaten Lombok timur memang tidak terlalu jauh namun cukup lama memakan waktu karena perjalanan yang cukup lama.
Sekitar 2km dari pusat kecamatan pringgabaya di samping jalan lingkar pulau lombok sudah terlihat lalulalang kapal penumpang yang menjembatani Pulau Lombok dan Sumbawa, Kawasan Pantai yang di Kelola Kemenkumham Republik Indonesia itu di gunakan sebagai Lapas atau Lembaga Pemasyarakatan Bagi nara pidana yang menghabiskan masa tahanan Narapidana juga dapat belajar tentang system dan cara kelola pinggiran pantai sekaligus belajar beternak sapi.
Pinggiran Pantai yang di pagari pohon kelapa berjejer dari selatan menuju utara di lengkapi dengan berugak dan sajian pemandangan yang cukup mempesona, bagi penggemar Madak (Menangkap Binatang Laut Selepas Surut) juga merupakan Magnet tersendiri bagi Pecandu wista alam Pinggir pantai. Selepas menikmati pesona laut dan tantangan Madak Di sana juga di sediakan pasilitas peristirahatan sembari menikmati kesegaran Kelapa muda dicampur ES.
Bagi Touris local yang beragama Islam telah di sediakan Pasilitas ibadah lengkap dengan seluruh atributnya. Sungguh sebuah potongangan surge yang terlepar dari penjara untuk narapidana namun masih cukup nikmat untuk di nikmati Touris Domistik dan Manca Negara. (Sumber: http://wisata-alam.kampung-media.com)

Minggu, 21 Juli 2013

Objek Wisata Pantai Pangandaran


Pantai pangandaran adalah pantai yang terletak di selatan pulau jawa, Indonesia,yang lebih kenal dengan sebutan pantai selatan. Tempat yang di mitoskan sebagai tempat kerajaan nyi roro kidul.+ tempat ini sangat cocok bagi anda yang ingin berlibur atau berwisata,karena pemandangan yang indah dan tidak di miliki pantai –pantai lainnya karena pangandaran memiliki tempat penginapan yang tradisional ,hotel,diskotik,pedagang yang menjual barang tradisional yang sudah menjadi ciri khas lokasi pantai pangandaran ini.
Pangandaran memilik lokasi yang paling indah di dunia yaitu GREENLAND,Greenland adalah tebing yang ada karena tetesan air yang jatuh dari atas,dan warna airnya yang berwarna hijau,Greenland terlihat sangat eksotis apalagi bagi anda yang sedang mencari inspiras dan ide – ide. Pangandaran juga menyiapkan alat transportasi air bagi anda yang ingin mengetahui lebih dalam lagi indahnya pantai pangandaran. Untuk memasuki daerah pantai ini kita dkenai biaya Rp. 10.000 atau U$ 1.00 .
Di pantai pangandaran ini juga menyediakan tour guide bagi anda turis dari luar Indonesia dan bahasa yang di gunakan oleh para tour guide ini biasanya memakai bahasa inggris. Dan anda akan melihat para nelayan yang sedang berangkat untuk mencari ikan dan pulang mencari ikan dengan membawa hasil tangkapannya . kita bisa berbaur dengan masyarkat asli pangandaran yang ramah dan baik hati. Pantai Pangandaran merupakan sebuah objek wisata andalan Kabupaten Pangandaran (pemekaran dari Kabupaten Ciamis) yang terletak di sebelah tenggara Jawa Barat, tepatnya di Desa Pananjung, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. Pantai ini dinobatkan sebagai pantai terbaik di Pulau Jawa menurut AsiaRooms.
Objek wisata yang merupakan primadona pantai di Jawa Barat ini memiliki berbagai keistimewaan seperti:
• Dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat yang sama
• Pantainya landai dengan air yang jernih serta jarak antara pasang dan surut relatif lama sehingga memungkinkan kita untuk berenang dengan aman
• Terdapat pantai dengan hamparan pasir putih
• Tersedia tim penyelamat wisata pantai
• Jalan lingkungan yang beraspal mulus dengan penerangan jalan yang memadai
 • Terdapat taman laut dengan ikan-ikan dan kehidupan laut yang mempesona.
Dengan adanya faktok-faktor penunjang tadi, maka wisatawan yang datang di Pangandaran dapat melakukan kegiatan yang beraneka ragam: berenang, berperahu pesiar, memancing, keliling dengan sepeda, para sailing, jet ski dan lain-lain.
Adapun acara tradisional yang terdapat di sini adalah Hajat Laut, yakni upacara yang dilakukan nelayan di Pangandaran sebagai perwujudan rasa terima kasih mereka terhadap kemurahan Tuhan YME dengan cara melarung sesajen ke laut lepas. Acara ini biasa dilaksanakan pada tiap-tiap bulan Muharam, dengan mengambil tempat di Pantai Timur Pangandaran.
Event pariwisata bertaraf internasional yang selalu dilaksanakan di sini adalah Festival Layang-layang Internasional (Pangandaran International Kite Festival) dengan berbagai kegiatan pendukungnya yang bisa kita saksikan pada tiap bulan Juni atau Juli.

Fasilitas yang tersedia: 
1. Lapang parkir yang cukup luas,
2. Hotel, restoran, penginapan, pondok wisata dengan tarif bervariasi,
3. Pelayanan pos, telekomunikasi dan money changer,
4. Gedung bioskop, diskotik
5. Pramuwisata dan Pusat Informasi Pariwisata,
6. Bumi perkemahan,
7. Sepeda dan ban renang sewaan,
8. Parasailing dan jetski.

TIKET MASUK OBJEK WISATA PANGANDARAN
a. Pejalan Kaki 1(satu) Orang Rp. 3.000,-
b. Sepeda Motor Rp. 7.000,-
c. Kendaraan Jenis Jeep/Sedan Rp. 28.000,-
d. Kendaraan Jenis Carry Rp. 35.000,-
e. Kendaraan Penumpang Besar Rp. 40.700,-
f. BUS Kecil Rp. 80.000,-
g. BUS Sedang Rp. 104.000,-
h. BUS Besar Rp.169.000,-

Minggu, 14 Juli 2013

Penjara pun Bisa Jadi Objek Wisata di Fremantle


 
Kalau biasanya bekas penjara terbengkalai dan kotor, lain halnya dengan Fremantle Prison di Kota Fremantle, Western Australia. Bekas penjara kelam ini sekarang jadi tempat wisata, lengkap dengan museum di dalamnya.

Perkembangan bisnis dan wisata di Perth, Western Australia tak lepas dari sejarah koloni Inggris-Belanda-Prancis pada abad ke-17 dan ke-18. Sejarah tersebut tercermin lewat keberadaan Fremantle Prison di Kota Fremantle.

Fremantle adalah sebuah kota sekitar 10 Km dari Perth. Di sini, banyak tempat bersejarah yang tergabung dalam sebuah kota tua. Rumah, penjara, juga pasar tua yang sayang untuk dilewatkan. Sunday Market misalnya, pasar kaget akhir pekan di pusat Kota Fremantle yang menyuguhkan aneka buah, pakaian, dan suvenir bagi wisatawan.

Turis bisa belanja di Sunday Market, atau mengunjungi Fremantle Market yang letaknya tak jauh dari situ. Fremantle Market adalah sebuah pasar tua yang menjual sayur, buah-buahan, juga produk olahan asli Australia.

Bar dan kafe tua pun berderet di sekeliling Fremantle Market. Wisatawan bisa melihat para pemain rugby yang sedang latihan di Fremantle Stadium yang dibangun pada abad ke-17. Tapi yang tak boleh Anda lewatkan adalah Fremantle Prison, penjara yang sekarang dibuka untuk wisatawan.

Fremantle Prison dibangun pada abad ke-17. Penjara ini punya 3 lantai dan tidak berpenghuni. Meski begitu, penjara ini dibuka setiap hari untuk wisatawan. Anda juga bisa membeli pernak-pernik dan mengelilingi museum di dalamnya.

"Orang-orang dulu datang tergiur karena di sini adalah surganya tambang. Kenyataannya mereka tertipu. Tertipu oleh berita koran di Eropa," tutur Ryan Zaknich, pemandu wisata rombongan wartawan yang ikut Garuda Indonesia Media Familiarization Trip to Perth pada 28 Juni-1 Juli 2013.

Ryan menuturkan, orang Inggris yang datang ke Fremantle kecewa karena tidak mendapatkan tambang. Awalnya yang datang sektiar 4.000 orang, lambat laun menyusut hingga jadi beberapa ratus orang saja. Kota ini pun ditinggalkan, lalu dibangunlah penjara.

Fremantle Prison didanai oleh pihak Kerajaan Inggris. Usai ditahan, para eks napi ini bisa tinggal di Kota Fremantle. Mereka membangun dan mengolah tanah yang dianggap tak memiliki harapan itu menjadi ladang pertanian yang subur. Ada juga peternakan, tambang, dan tempat wisata.

Selain koloni Inggris, Fremantle juga jadi tempat singgahnya para koloni Belanda dan Prancis yang juga mampir ke Batavia alias Jakarta. (travel.detik.com)

Sabtu, 30 Maret 2013

Astana Giribangun


A. Selayang Pandang

Astana Giribangun merupakan salah satu obyek wisata religi yang terletak di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Obyek wisata religi ini merupakan kompleks makam keluarga mantan Presiden Indonesia, Soeharto. Kompleks makam yang dibangun di atas bukit Ngaglik seluas kurang lebih 4,3 hektar ini, dinamakan Astana Giribangun.

Sebelum Astana Giribangun dibangun, sudah ada kompleks pemakaman keluarga Pura Mangkunegaran, yaitu Astana Mangadeg. Di dalam astana ini terdapat makam Kanjeng Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Sri Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Samber Nyowo. Pada masa hidupnya, sang pangeran ini ialah seorang pendiri Praja Mangkunegaran, sebuah keadipatian tinggi di wilayah Jawa Tengah bagian timur.

Astana Giribangun dibangun pada tahun 1974, dan diresmikan pada hari Jumat Wage, tanggal 23 Juli 1976. Astana ini memiliki tiga bagian cungkup yang disebut Argotuwuh, Argokembang, dan Argosari. Satu bagian cungkup utama dan dua bagian cungkup lainnya merupakan calon makam yang diperuntukkan bagi keluarga dan para pengurus Yayasan Mangadeg.

Jika dilihat dari letaknya, Astana Giribangun ini berada di bawah Astana Mangadeg, hal ini menunjukkan arti bahwa masih terdapat garis keturunan antara Sri Hartinah (Bu Tien) dan keluarga Mangkunegaran III. Di kompleks pemakaman keluarga Cendana inilah presiden kedua Indonesia dimakamkan. Dan sekarang menjadi tujuan para pengunjung/peziarah dari berbagai kota di seluruh Indonesia.

B. Keistimewaan

Astana Giribangun berada di atas bukit yang memiliki pemandangan alam yang indah, taman-taman yang menghijau, dan suasana yang rindang. Kondisi ini membuat suasana nyaman bagi para peziarah saat berada di kawasan kompleks makam. Banyak peziarah yang hilir mudik keluar masuk pemakaman Astana Giribangun untuk berdoa dan menaburkan bunga di dalam kompleks pemakaman Keluarga Cendana ini. Dari kompleks pemakaman ini, pengunjung juga dapat melihat hamparan sawah yang menghijau.

Untuk menuju Astana Giribangun, pengunjung harus melewati jalan berundak-undak yang berkelok-kelok dan menanjak. Namun, Anda jangan berpikir akan capek selama berjalan menyusuri tangga tersebut, karena rasa capek itu akan terobati saat melihat keindahan pemandangan alam bukit Ngaglik dari arah tangga ini.

Bila dilihat dari gaya arsitekturnya, Astana Giribangun dibangun dengan mengadopsi model bangunan rumah khas Jawa, yaitu joglo. Astana yang memiliki luas sekitar 200 meter persegi ini, terbagi ke dalam tiga cungkup yang masing-masing bernama Cungkup Argotuwuh, Cungkup Argokembang, dan Cungkup Argosari yang merupakan cungkup tertinggi jika dibandingkan dengan kedua cungkup tersebut. Empat tiang utama di dalam Cungkup Argosari ini terbuat dari beton yang dihiasi dengan lapisan kayu ukiran asal Jepara. Selain itu, pada dasar tiang tersebut juga dihiasi dengan cincin-cincin yang terbuat dari logam kuning yang kilauannya mirip dengan emas. Sedangkan lantainya terbuat dari marmer buatan Tulungagung.

Cungkup Argosari merupakan cungkup utama di Astana Giribangun ini. Di cungkup inilah mantan Presiden Indonesia Soeharto bersama istrinya dimakamkan. Selain itu, terdapat pula makam kedua orang tua Ibu Tien. Bangunan yang berbentuk joglo khas gaya arsitektur Surakarta ini berdindingkan kayu ukir dengan luas sekitar 81 m2.

Setelah mengunjungi makam mantan Presiden Soeharto dan ibu negara ini, pengunjung  juga dapat melanjutkan berziarah ke teras Cungkup Argosari. Teras seluas 243 meter persegi ini rencananya diperuntukkan sebagai makam anak dan para menantu Soeharto. Sedangkan di selasar seluas 405 meter persegi merupakan calon makam para penasehat, pengurus harian, serta anggota pengurus Yayasan Mangadeg.

Selanjutnya pengunjung dapat melihat-lihat Cungkup Argokembang. Cungkup yang memiliki luas 567 meter persegi ini merupakan makam yang diperuntukkan kepada pengurus pleno, para pengurus seksi Yayasan Mangadeg, dan keluarga besar Mangkunegaran.

Setelah itu, pengunjung dapat menuju Cungkup Argotuwuh yang merupakan cungkup terluar dari astana ini. Area cungkup seluas 729 meter persegi ini juga merupakan calon makam bagi para pengurus Yayasan Mangadeg atau keluarga besar Mangkunegaran, sama seperti pada Cungkup Argokembang.

C. Lokasi

Wisata Religi Astana Giribangun terletak di Bukit Ngipik, sekitar 40 km arah utara dari Kota Solo, tepatnya masuk dalam wilayah Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia.

D. Akses

Untuk menuju Astana Giribangun ini, perjalanan dapat dimulai dari Terminal Tirtonadi atau Bandara Adisumarno Solo. Jika pengunjung memulai perjalanan dari Terminal Tirtonadi, naik angkutan kota jurusan Solo-Karanganyar atau naik bus jurusan Solo-Tawangmangu dan turun di Karanganyar. Namun, jika pengunjung memulai perjalanan dari Bandara Adisumarmo, pengunjung dapat naik taksi untuk sampai ke astana ini.

E. Gratis

Untuk memasuki Astana Giribangun, setiap pengunjung tidak dipungut biaya. Pengunjung hanya cukup menunjukkan Kartu Tanda Penduduk kepada pengelola astana agar diganti dengan izin masuk. Namun, para pengunjung juga dapat mengisi kotak amal yang telah disediakan oleh para pengelola astana di dekat pintu masuk itu.

F. Akomodasi dan Fasilitas Lainnya

Di kompleks Astana Giribangun terdapat fasilitas di antaranya mushala, kamar mandi, dua ruang tunggu, tempat istirahat pengunjung, area parkir, kios suvenir, serta sejumlah pedagang makanan dan minuman.
Untuk membuat rasa nyaman bagi pengunjung, di kompleks makam ini juga dilengkapi dengan fasilitas pendukung di antaranya serambi/balai tempat istirahat yang disebut paseban timur dan paseban selatan. Terdapat juga rumah untuk para juru kunci/pengelola harian.

(sumber: www.wisatamelayu.com/12-08)


Minggu, 23 Desember 2012

Benteng Pendem Cilacap


Kalau ada orang bertanya, tempat apa yang menarik untuk dikunjungi ketika berkunjung ke Cilacap selain Nusakambangan danTeluk Penyu ? kita harus mengunjungi Benteng Pendem. Benteng yang terletak di salah satu sudut kota Cilacap ini sangatlah menarik untuk dikunjungi.

Hanya bertanya sekali saja ketika memasuki Kota Cilacap kita sudah bisa menemukan lokasi Benteng Pendem yang dalam bahasa Belanda adalah Kusbatterij od de Lantong te Cilacap. Letaknya yang bersebelahan persis dengan Teluk Penyu, membuat hampir semua penduduk disini tahu lokasi benteng ini. Sore itu setelah berkeliling-keliling kota Cilacap, kami mencoba berspekulasi untuk ke Benteng Pendem apakah masih buka atau tidak. Ternyata ketika kami sampai disana hampir jam empat sore, masih terlihat petugas dan mengatakan kalau waktu berkunjung sampai dengan jam enam sore. Aduh senangnya kami semua....

Benteng yang dibangun oleh Belanda antara tahun 1861-1879 M ini memilki luas asli sekitar 10.5 hektare. Namun ternyata sejumlah 4 hektare diambil oleh pertamina untuk pembangunan salah satu fasilitasnya di daerah tersebut. Benteng ini sempat terpendam tanah beberapa waktu lamanya, sebelum akhirnya ditemukan pada tahun 1986 dan mulai digali pada tahun 1987. Semenjak itu benteng ini dibuka untuk umum yang ingin berkunjung ke benteng ini.

Karena sore itu langit mendung dan suasana sore yang mulai temaram, membuat suasana khas benteng yang kuno menjadi lebih misterius dan seram. Namun beruntung, sore itu Pak Slamet salah satu petugas benteng masih bersedia mengantar kami. Pak Slamet, salah satu penjaga benteng pun mengantar kami untuk berkeliling-keliling benteng ini. Barak pertama yang kami jumpai adalah barak peristirahatan para pekerja paksa yang dulunya bekerja sepanjang hari dan malam harinya tidur di barak ini. Barak yang berbentuk setengah lingkaran ini memang unik dan indah, karena bentuk kunonya serta disekitar lokasi nampak terawat dengan baik.

Setelah barak peristirahatan masuk ke dalam lagi adalah tempat meriam, dengan lubang-lubang meriamnya ke arah laut siap untuk menyerang musuh yang datang. Sedangkan meriam-meriamnya sendiri sudah tidak ada. Diseberang tempat meriam adalah ruang klinik, adalah ruang pengobatan buat para pekerja yang mengalami sakit.
Masih searah dengan dengan ruang klinik adalah ruang dapur dan ruang penjara. Keunikan lain dari benteng ini adalah, dulunya kapal bisa langsung masuk ke dalam benteng ini, terbukti dengan adanya sungai buatan yang langsung tembus ke laut lepas. Menarik sekali menikmati salah satu ikon wisata Kota Cilacap, yaitu Benteng Pendem.

(sumber: AMGD/mlancong.com)

Sabtu, 22 Desember 2012

Logika Pesugihan Gunung Kawi


Sebagaimana dataran tinggi di tempat-tempat lain, Gunung Kawi pun menawarkan keindahan panorama pegunungan asri dengan udara yang menyegarkan. Lebih dari itu, Gunung Kawi ternyata memiliki magnet “lain” yang sangat kuat sebagai daya tarik. Karena bagi sebagian orang, Gunung Kawi adalah salah satu tujuan wisata religius sekaligus simbol kemakmuran.
Memiliki ketinggian 2.860 meter di atas permukaan laut, Gunung Kawi nyaris tidak pernah sepi pengunjung. Gunung yang oleh warga Jawa Timur kerap dicitrakan sebagai tempat pesugihan itu bagi kalangan Kejawen, penggiat budaya Jawa, Gunung Kawi lebih dilihat sebagai tempat pelestarian budaya Jawa. Banyak ritual Kejawen diadakan di sini secara teratur dan diikuti aktivis budaya Jawa di seluruh Pulau Jawa.
Di Gunung Kawi terdapat makam dua tokoh Kejawen: RM Imam Soedjono (wafat 8 Februari 1876) dan Kanjeng Zakaria II alias Mbah Djoego (wafat 22 Januari 1871). Keterangan tertulis di prasasti depan makam menyebutkan, Mbah Djoego ini buyut dari Susuhanan Pakubuwono I (yang memerintah Kraton Kartosuro 1705-1717). Sedangkan RM Imam Soedjono buyut dari Sultan Hamengku Buwono I (memerintah Kraton Yogyakarta pada 1755-1892). Konon, keduanya merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro yang berhasil selamat dari peperangan melawan kompeni Belanda, dan kemudian menetap di lereng Gunung Kawi hingga akhir hayatnya.
Jadi, kedua tokoh ini orang Islam, dimakamkan secara Islam serta adat keraton. Makam keduanya berdampingan di gedung utama. Ada larangan keras untuk memotret atau mengambil gambar saat kita masuk kompleks ziarah utama ini. Para pekerja, semua berbusana adat Jawa, mengawasi semua pengunjung dengan keramahan yang khas.
Memasuki kawasan pesarean, pengunjung disambut gapura selamat datang “Pendopo Pesarean Agung” berbentuk seperti candi lengkap dengan aksara Jawa di bagian atasnya. Bagian depan dinding gapura kanan-kiri terdapat lukisan timbul yang mengisahkan aktivitas Eyang Djoego dan Eyang Soedjo semasa hayat, lengkap dengan tahun keberadaan mereka, tahun 1871.
Yang cukup menarik, masih di gerbang pesarean, pengelola memasang papan pengumuman berisi jadwal kunjungan. Ada empat jadwal kunjungan, yakni pagi, siang, malam, dan tengah malam. Jadwal kunjungan pagi dimulai pukul 08.00, siang 14.00, dan malam 19.00. Sementara jadwal berkunjung dan berkeliling pesarean tengah malam dibatasi hanya satu jam dari pukul 24.00.
Selain ziarah di makam kedua bangsawan Yogyakarta itu, di kawasan pesarean terdapat pula Kelenteng Dewi Kwan Im dan kediaman Tan Kie Lam. Lilin-lilin merah, besar, terus bernyala. Puluhan warga Tionghoa secara bergantian berdoa di sana. Juga ada ciamsi --metode meramal nasib a la Tiongkok kuno. Mpek Lam (sapaan Tan Kie Lam) adalah warga Tionghoa yang merupakan murid kesayangan Eyang Soedjo. Itu sebabnya, meski Mpek Lam telah lama meninggal dunia, kawasan Pesarean Gunung Kawi --terutama Kuil Kwan Im dan kediaman Mpek Lam-- menjadi tempat tujuan warga keturunan Tionghoa. Bahkan, kehadiran mereka sampai sekarang sangat dominan dibanding etnis-etnis yang lain. Pluralitas umat beragama ini terlihat cukup harmonis. Ini bisa terlihat pada harmoni letak Masjid Imam Soedjono yang berdiri tak jauh dari Kuil Kwan Im.
Selain lokasinya yang dekat dengan masjid, keberadaan kuil itu tampak mencolok dengan lilin raksasa sebagai simbol dari Ti Kong. Lilin jumbo itu tampak mewah berada di lantai kuil berbahan batu granit. Yang paling menarik dari kuil itu adalah patung Dewi Kwan Im berwarna emas berbahan dasar perunggu setinggi delapan meter yang diletakkan di ruang khusus di depan tempat lilin Ti Kong.
Patung seharga Rp2,5 miliar itu sumbangan Liem Hong Sien alias Anthony Salim, putra Liem Sioe Ling alias Sudono Salim, pendiri Salim Grup. Patung Dewi Kwan Im dalam posisi Boddhisattva Avalokitesvara itu didatangkan langsung dari Taiwan pada Oktober 2008 lalu. Untuk mempermudah pengiriman, patung dipotong-potong kemudian dirakit kembali di Gunung Kawi.
“Perakitan baru selesai akhir tahun kemarin,” ujar Eko, cucu juru kunci Gunung Kawi.
Logika “Pesugihan”
Setiap hari kediaman Mpek Lam dan Kuil Dewi Kwan Im nyaris tidak pernah sepi pengunjung. Selain berziarah, para pengunjung umumnya mempunyai satu tujuan, yakni ngalap berkah (mencari kemakmuran). Bahkan, pada hari-hari tertentu jumlah pengunjung bisa berlipat-lipat, mengikuti penanggalan Jawa dan China, misalkan hari Jumat Legi, Hari Raya Imlek, dan perayaan Tahun Baru Jawa (bulan Suro). Tentu lengkap dengan ritual-ritual dalam versi masing-masing (Tionghoa dan Jawa).
Pengunjung yang tak pernah sepi di Pesarean Gunung Kawi tampaknya memberi berkah tersendiri bagi warga Wonosari. Kecamatan di sebelah barat Kabupaten Malang itu berkembang pesat. Penginapan dan hotel tumbuh subur di sepanjang jalan menuju pesarean. Tak ketinggalan kios-kios suvenir khas Gunung Kawi. Oleh-oleh kuliner asli adalah telo (ketela) Gunung Kawi. Bentuknya sangat kecil memanjang seperti ibu jari. Berwarna ungu tua. Bila dimasak terutama dengan cara dikukus, rasanya sangat manis seperti madu.
Dan, aliran Kejawen yang berkait erat dengan ritual selamatan tampaknya juga menjadi ladang bisnis tersendiri. Pengunjung tidak perlu repot-repot menyiapkan aneka masakan dan sesaji ubo rumpe seperti cok bakal, pisang raja, dan kelapa muda untuk keperluan selamatan, karena di sana ada loket pemesanan tumpeng dan perlengkapan selamatan, lengkap dengan jadwal selamatan.
Menu selamatan, harganya bervariasi mulai dari Rp35.000 sampai Rp550.000, dan tumpeng ayam Rp 110.000. Harga barang dan keperluan nazar juga bervariasi, mulai dari satu kotak minyak tanah Rp70.000, seekor sapi Rp10 juta, hingga menanggap wayang Rp5 juta.
Suatu waktu, tepatnya tanggal 12 Suro atau 9 Januari 2009 lalu, warga Wonosari memperingati haul (hari meninggalnya) Eyang Soedjo. Saat ngalap berkah, para peziarah galibnya menjalani ritual tertentu yang mereka yakini. Setelah itu mereka mencari tempat di sekitar kawasan Pesarean Gunung Kawi untuk menyepi. Yang paling menarik adalah berjibunnya pengunjung duduk di bawah pohon dewandaru. Konon katanya, kalau sampai kepala kejatuhan daun dewandaru, keinginan bisa terwujud.
Masuk akalkah? Salah seorang anak muda asal Gunung Kawi Asli dulu sering merasa kurang sreg atas pandangan pesugihan (ngalap berkah, mencari kemakmuran) Gunung Kawi. Bersama lima orang temannya dari Kepanjen dan Slorok, dia melakukan penelitian kecil tentang mitologi dan pengaruh sosial ekonomi bagi masyarakat sekitarnya. Kebetulan mereka bertemu dan bergabung dengan dua mahasiswi (Antropologi dan Sosiologi) asal Australia dan Jerman yang juga melakukan penelitian yang sama.
Logika pesugihan yang mereka simpulkan begini: “Yang datang ke sana kebanyakan orang etnis Tionghoa yang ingin mengembangkan usahanya dan juga mereka yang merasa telah berhasil usaha yang ditempuhnya. Dalam pertemuan inilah terjadi transaksi secara tidak disengaja yang kemudian mereka saling menjadi rekan bisnis yang penting.”
Ringkasnya, si anak muda itu mengilustrasikan: “Ayen Si Bakul roti ambil plastik dari Ko Jang, tepung dari yuk Liek, Sementara Liong Shen yang di usaha distribusi menjadi agen penting bagi Ayen. Sebab-akibat inilah yang membuat mereka makin sugih. Apalagi bila kerjasamanya dalam kualitas dan kapasitas yang lebih besar.”
Logika inilah yang harus diluruskan agar warga masyarakat tidak semakin terbenam dalam mimpi-mimpi yang menghanyutkan dan menjerumuskan. Bahkan, menyesatkan dua-akherat. (dari beberapa sumber)

Jumat, 21 Desember 2012

Pesona “Miring” Gunung Kemukus


Kawasan wisata Gunung Kemukus merupakan sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut yang menjorok ke tengah Waduk Kedung Ombo, Sragen. Di sini terdapat komplek makam Pangeran Samudro yang ramai diziarahi setiap malam Jumat Pon (dalam penanggalan Jawa).

Secara geografis, kawasan wisata Gunung Kemukus terletak sekitar 29 Km di sebelah utara kota Solo. Dari Sragen berjarak sekitar 34 Km ke arah utara. Jarak tersebut bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari kota Sragen dapat ditempuh selama sekitar 45 menit dengan kendaraan bermotor melewati jalan Sragen – Pungkruk/Sidoharjo – Tanon – Sumberlawang/Gemolong – Gunung Kemukus. Sedangkan dari kota Solo dapat dicapai menggunakan kendaraan bermotor selama 30 menit, melewati jalan Solo – Purwodadi turun di Barong kemudian menuju Gunung Kemukus dengan perahu menyeberangi Waduk Kedung Ombo.

Komplek makam Pangeran Samudro terdiri dari bangunan utama berbentuk rumah joglo dengan dinding batu bata dan bagian atas berdinding kayu papan. Di dalamnya terdapat tiga makam: satu makam besar yang ditutupi kain selambu sebagai makam Pangeran Samudro dan R.Ay. Ontrowulan; dan dua makam lainnya adalah makam dua abdi setia Pangeran Samudro.

Kemudian di sebelah kanan makam terdapat sendang (sumber air) yang bernama “Sendang Ontrowulan”. Sendang tersebut merupakan tempat bersuci R.Ay. Ontrowulan ketika akan menemui puteranya yang sudah meninggal. Air sendang tersebut dikenal tidak pernah habis, sekalipun di musim kemarau.

Sejarah

Pangeran Samudro dan pengikutnya sebenarnya sangat diharapkan untuk kembali ke Kesultanan Demak oleh Sultan Demak. Namun, ajal terlebih dulu menjemput Pangeran Samudro. Sultan Demak mengatakan, “Menurut hematku bahwa sakitnya Si Samudro itu sudah tidak bisa diharapkan untuk membaik dan jauh kemungkinan untuk sampai ke Demak. Kiranya jika memang sudah menjadi suratan Yang Maha Kuasa bahwasanya sampai di situ saja riwayatnya, maka saya memberi petunjuk jika Si Samudro sudah sampai ajalnya, maka kebumikanlah jasadnya pada suatu tempat di bukit arah barat laut dari tempat Pangeran Samudro meninggal. Sebab, boleh jadi kelak di sekitar tempat itu akan menjadi ramai sehingga dijadikan teladan orang-orang di sana.”

Pada mulanya keadaan di lokasi Makam Pangeran Samudro sangatlah sepi dan jarang dijamah orang karena letaknya di tengah hutan belantara, serta banyak dihuni oleh binatang-binatang buas. Namun, sedikit demi sedikit keadaan berubah setelah daerah tersebut dihuni penduduk.

Konon di atas bukit tempat Pangeran Samudro dimakamkan, apabila menjelang musim hujan ataupun kemarau tampaklah kabut-kabut hitam seperti asap (kukus). Karena hal itulah, penduduk setempat menyebut bukit itu “Gunung Kemukus” sampai dengan saat ini.

Setelah menerima kabar dari abdi dalem Pangeran Samudro, Sultan Demak lalu menyampaikan berita meninggalnya Pangeran Samudro tersebut kepada ibu Pangeran Samudro, R.Ay. Ontrowulan. Terkejutlah beliau mendengar berita tersebut dan memutuskan untuk menyusul ke tempat Pangeran Samudro dimakamkan. Kepergian ibunda Pangeran Samudro ke makam puteranya diantar oleh abdi Pangeran Samudro yang setia. Ibunda Pangeran Samudro berniat untuk bermukim di dekat Makam Pangeran Samudro dan merawat makam puteranya tersebut.

Setelah tiba di pemakaman, ibunda Pangeran Samudro langsung merebahkan badannya sambil merangkul pusara putera satu-satunya yang amat dicintainya. Sampai pada suatu ketika ia merasa bertemu kembali dengan puteranya serta dapat bertatap muka dan berdialog secara gaib: “Oh Ananda begitu sampai hati meninggalkan aku dan siapa lagi yang kutunjuk sebagai gantimu, hanya engkau satu-satunya putraku dan aku tidak dapat berpisah denganmu”.

Pangeran Samudro menjawab: “Oh Ibunda, Bunda tentu tidak dapat berkumpul dengan Ananda, sebab ibunda masih berbadan jasmani dan selama belum melepas raga, untuk itu harus bersuci terlebih dahulu di sebuah ‘sendang’ yang letaknya tidak jauh dari tempat ini.”

Setelah terbangun dan tersadar dari pertemuan dengan puteranya, ibunda bangkit dan pergi ke sendang yang dikatakan puteranya untuk bersuci. Setelah itu, rambutnya yang sudah terurai dikibas-kibaskan dan jatuhlah bunga-bunga penghias rambutnya. Konon bunga-bunga tersebut tumbuh mekar menjadi pepohonan “Nagasari” yang dapat dijumpai di sekitar lokasi hingga kini.

Lantaran tebalnya rasa kepercayaan ibunda Pangeran Samudro yang melampaui batas keprihatinan, ibunda akhirnya dapat mencapai muksa secara gaib sampai badan jasmaninya. Tak seorang pun tahu ke mana perginya R.Ay. Ontrowulan atau dengan kata lain ibunda Pangeran Samudro hilang tak tentu rimbanya. Untuk mengenang peristiwa bersuci R.Ay. Ontrowulan, lalu diberi nama “Sendang Ontrowulan”.

Sampai kini, pemakaman Pangeran Samudro nyaris tak pernah sepi peziarah. Setiap hari selalu ada peziarah kendati tidak banyak. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang melakukan suatu pantangan/sesirih tertentu, misalnya melakukan pati geni selama beberapa hari di sana. Biasanya setiap Kamis malam Jum’at jumlah pengunjung lebih banyak daripada hari-hari biasa.  Dan setiap Kamis malam Jumat Pon dan Kamis malam Jumat Kliwon merupakan puncak kunjungan wisatawan/peziarah. Tidak kurang dari 10.000 pengunjung dari berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa datang untuk berziarah di tempat ini.

Puncak kunjungan peziarah terjadi setiap malam Jumat Pon di bulan Suro (kalender Jawa). Di bulan Suro, pengunjung malam Jumat Pon mencapai 15.000 orang dan pada malam Jumat Kliwon mencapai 7.000 orang. Pada hari pertama di bulan Suro diadakan ritual pencucian selambu makam Pangeran Samudro, yang biasa disebut dengan ritual Larab Slambu/Larab Langse, yang dilanjutkan dengan pentas wayang kulit semalam suntuk sebagai acara rutin tahunan di obyek wisata ini.

Mengapa puncak di malam Jumat Pon? Menurut tradisi dan literatur yang ada, hal ini bertolak dari kisah pada zaman kerajaan Demak. Pada suatu ketika di hari Jumat Pon, setelah Sultan Demak melaksanakan shalat berjamaah (Jum’atan), beliau melayangkan pandangannya ke atas dan dilihatnya sebuah bingkisan. Kejadian tersebut tidak diketahui oleh seorang pun kecuali oleh Sultan sendiri. Bingkisan tersebut lalu diambil dan di dalamnya terdapat kain putih yang bertuliskan “Ini adalah pakaian untuk bekel (Senopati) Tanah Jawa”. Sebuah benda berbentuk “Kotang Ontokusumo”. Kemudian menurut adat, pakaian ini dikenakan oleh orang yang akan memangku jabatan Pangeran Pali.

Kejadian itu lalu dijadikan sebagai ketentuan dengan para wali. Ketentuan di mana apabila Sultan Demak berkenan mengadakan pertemuan dengan para wali, maka waktunya ditentukan tepat pada hari Jumat Pon untuk memperingati peristiwa penemuan Pusaka Kotang Ontokusumo.

Berdasarkan pada cerita tersebut, masyarakat sekitar kantas menjadikan malam Jumat Pon sebagai puncak tahlilan/do’a bersama. Sampai saat ini, pada setiap malam Jumat Pon banyak orang berduyun-duyun datang untuk berziarah ke Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus.

Inti ziarah

Di kalangan orang Jawa sempat berkembang ihwal makna ziarah dalam mencapai sebuah cita-cita. “Sing sopo duwe panjongko marang samubarang kang dikarepke bisane kelakon iku kudu sarono pawitan temen, mantep, ati kang suci, ojo slewang-sleweng, kudu mindeng marang kang katuju, cedhakno dhemene kaya dene yen arep nekani marang panggonane dhemenane” (Kadjawen, Yogyakarta: Oktober 1934)
Petikan naskah atau wacana tersebut memang dapat ditafsirkan keliru, khususnya oleh masyarakat awam. Ada pendapat yang keliru yang mengatakan bahwa apabila berziarah ke Makam Pangeran Samudro harus seperti ke tempat kekasih/dhemenan. Dalam pengertian bahwa berziarah ke sana harus membawa isteri simpanan atau teman kumpul kebo serta melakukan hubungan seksual dengan bukan isteri atau suami yang sah.. Parahnya, pendapat tersebut telah diterima oleh sebagian besar masyarakat.

Munculnya pendapat tersebut bermula dari penafsiran pengertian kata “dhemenan”. Pengertian kata “dhemenan” dalam bahasa Jawa diartikan kekasih lain yang bukan isteri/suami sah (pasangan kumpul kebo), kekasih gelap, isteri/suami simpanan. Sehingga, pengertiannya menjadi apabila ziarah ke Makam Pangeran Samudro harus membawa dhemenan. Dan inilah yang kemudian menjadi semacam pesona miring Gunung Kemukus.

Arti sesungguhnya dari kata “dhemenan” dalam konteks naskah dalam bahasa Jawa tersebut adalah keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita yang ingin segera terwujud/tercapai seperti seakan-akan ingin menemui kekasih. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inti ziarah di Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus adalah apabila punya kemauan, cita-cita yang ingin dicapai atau apabila menghadapi rintangan yang menghalangi jalan untuk mencapai cita-cita/tujuan tersebut harus dilakukan dengan cara sungguh-sungguh, hati yang bersih suci dan konsentrasi pada cita-cita dan tujuan yang akan dicapai/dituju. Dengan demikian, terbukalah jalan untuk mencapai cita-cita dan tujuan tersebut dengan mudah.

Masih saja miring

Suatu malam Jumat Pon, sebagaimana dilansir koran Jawa Pos, tempat peziarahan Gunung Kemukus penuh sesak para pengunjung. Meskipun lokasinya kini sudah terpisah dengan daratan Kecamatan Sumberlawang, akibat genangan air proyek waduk raksasa Kedung Ombo beberapa tahun lewat, namun minat para peziarah yang berdatangan dari berbagai daerah nyaris tak pernah surut.

Dengan menggunakan sampan, mereka dengan sabar meniti perairan Kedung Ombo untuk bisa mencapai lokasi Gunung Kemukus. Ini merupakan satu-satunya cara menuju tempat itu, setelah jembatan beton penghubung antara Kecamatan Sumberlawang dan Gunung Kemukus lenyap ditelan genangan air waduk.

Ongkos menuju ke sana memang menjadi lebih mahal sejak hubungan darat terputus oleh genangan waduk. Sebab, selain harus membayar retribusi, parkir mobil/sepeda motor, membeli seperangkat alat berziarah seperti kembang, minyak wangi, dan kemenyan madu, para peziarah sekarang juga harus membayar ongkos penyeberangan yang cukup mahal. “Tapi kalau pas musim kemarau panjang, biasanya debit air waduk turun drastis. Pada saat itulah jembatan beton tampil lagi ke permukaan, sehingga para peziarah bisa ke Gunung Kemukus lewat darat,” tutur Paryanto, seorang nelayan setempat yang juga bertindak sebagai penyedia jasa penyeberangan perahu.

Apalah artinya ongkos mahal dibandingkan dengan berkah yang bakal di bawa pulang para peziarah? Setidaknya ada dua alasan, mengapa banyak orang dari berbagai penjuru daerah masih suka berbondong-bondong untuk ngalap berkah (mengais rezeki) ke makam Pangeran Samodro, yang punden-nya berada tepat di puncak Gunung Kemukus? Pertama, tentu tak lepas dari rezeki. Sedang yang kedua berkaitan erat dengan birahi.

Konon, bagi kaum perempuan, berziarah ke makam Pangeran Samodro, diyakini bisa mendatangkan banyak rezeki. Itu sebabnya, perempuan-perempuan yang berziarah ke sana sebagian besar berprofesi sebagai pengusaha. Baik pengusaha penggilingan padi, pengusaha rumah makan, pedagang pasar, dan lain sebagainya.

Celakanya, apabila keinginan mereka ingin cepat terkabul, konon selepas melakukan ritual peziarahan yang diawali dengan mandi di sendang serta melantunkan doa-doa khusus yang dibimbing seorang juru kunci makam Pangeran Samodro, para peziarah perempuan harus menjalani ritual lainnya, yaitu mandi birahi dengan lelaki yang bukan suaminya.

Bagaimana mereka bisa saling berjodoh dalam petualangan yang terkesan liar itu? Sejak Kamis Pahing (siang hari), rombongan peziarah --baik laki-laki maupun perempuan-- yang belum saling kenal sering kali bercanda terlebih dulu. Bagi yang sudah paham, bahwa memburu berkah ke Gunung Kemukus seseorang harus berani bercinta dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya, biasanya lantas mengikat janji.
Bilamana janji sudah disepakati, maka pada malam Jumat Pon seusai menjalani prosesi ziarah di makam Pangeran Samodro, berpasang-pasang kekasih dadakan tadi bebas melakukan apa saja, termasuk berhubungan intim layaknya suami-isteri. Terus di mana mereka harus bersebadan?

Di masa lalu, ketika segala sesuatu masih gampang ditutup dengan uang, adegan seks bebas bisa dengan aman dilakukan di semak-semak atau di balik rerimbunan pohon sekitar kompleks makam. Mereka begitu santai dan tidak merasa risih walau di sela-sela rerimbunan pohon ada sepasang mata yang mengintipnya.

Karena adegan demi adegan orang dewasa saat itu bisa dipertontonkan secara vulgar, maka Gunung Kemukus pun di cap masyarakat luas sebagai tempat peziarahan paling mesum di Indonesia. Atas tudingan ini, Pemerintah Kabupaten Sragen sempat kebakaran jenggot. Operasi yang melarang perbuatan mesum di sekitar makam Pangeran Samodro pun digelar saban malam Jumat Pon. Namun operasi itu terkesan setengah hati. Pemkab tidak berani menutup sama sekali tempat peziarahan tersebut, lantaran sumbangan yang diberikan untuk memacu Pendapatan Asli Daerah (PAD), tergolong besar. (dari berbagai sumber)