ad

Jumat, 19 Agustus 2016

Waspadai, Sebaran Penyakit Berbahaya di Rumah Sakit



Menjenguk pasien di rumah sakit bisa berpotensi ketularan penyakit. Penyakit tersebut bukan saja berasal dari pasien yang dijenguk namun juga dapat  disebabkan berbagai virus atau bakteri yang ‘beterbangan’ di sekitar rumah sakit.
Infeksi di rumah sakit (RS) atau nosokomial dapat  diidap pasien, perawat, dokter, bahkan pembe­suk jika kesehatan lingku­ngan rumah sakit tidak dijaga atau terawat.

Ketua Departemen Mikro­biologi FKUI dr. Anis Karu­niawati, PhD, SpMK(K) menjelaskan, infeksi di RS dapat menye­bar lewat pasien, tenaga kese­hatan, pengunjung, pera­latan, makanan atau minuman, ling­ku­ngan sekitar, maupun aki­bat tindakan tertentu yang dila­kukan tenaga kesehatan untuk tujuan diagnosa atau terapi.
“Mengingat pentingnya peran lingkungan RS dalam pence­gahan nosokomial, persyaratan kesehatan lingkungan RS harus dipenuhi sesuai standar,” tegasnya ke­tika mengikuti diskusi “Pe­nye­baran Infeksi di Rumah Sakit Harus Dikendalikan” di Ru­ang Seminar Departemen Mi­kro­­biologi FKUI Jakarta, pekan lalu.
Untuk mencegah risiko noso­komial di RS, pihaknya me­nyarankan pengunjung mesti m­e­matuhi semua peraturan di RS. Seperti jam besuk, usahakan jangan membawa makanan dari luar, cuci tangan pakai sabun antiseptik sebelum dan sesudah memasuki RS dan ruang pasien. Penting juga untuk diketahui , mengurangi interaksi fisik de­ngan pasien, bersalaman tangan atau cium pipi, dan gunakan masker jika badan Anda kurang fit.
Selain itu, kata Anis, rumah sakit harus melakukan upaya preventif dan kuratif guna mencegah in­feksi di RS. Misalnya, pem­ber­sihan se­cara rutin, agar dinding, lantai, tempat tidur, jendela, tirai, kamar mandi dan alat-alat medis bersih serta  steril dari debu, ko­toran, kuman dan lainnya.
“Pengaturan siklus udara yang baik di setiap fasilitas kesehatan. Sebab, kamar dengan perlakuan seperti itu lebih banyak menu­runkan risiko penularan penyakit infeksi,” tegasnya.
Pencegahan lainnya adalah setiap RS harus membangun sis­tem penyediaan air bersih yang dapat meminimalisir ke­mung­kinan terkontaminasi bakteri pa­togen. Menyediakan se­lalu sa­rana mencuci tangan pa­kai air yang mengalir dan sa­bun anti­septik, serta tisu sekali pakai guna mengeringkan ta­ngan. “Jika salah satu tidak terpe­nuhi, pasien atau pengunjung dapat mempertanyakan hal ter­sebut,” cetusnya.
Staf pengajar Kedokteran Oku­pasi Departemen Ilmu Kedok­teran Komunikasi (FKUI) Dr. Muchtaruddin Mansjur, PhD me­nambahkan, pasien harus kritis saat menerima pelayanan dari rumah sakit.
Ia juga meminta pengunjung juga mematuhi peraturan di rumah sakit mengenai jam besuk. Termasuk, jangan mem­bawa anak di bawah usia 12 tahun masuk rumah sakit.
“Yang lebih penting adalah cuci tangan. Begitu ada kesem­patan, harus segera mencuci tangan. Cara terbaik mencuci tangan adalah menggunakan sabun antiseptik, kemudian cuci semua bagian tangan sampai pergelangan,” jelasnya.***Ant.H***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar