ad

Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2013

KAMPUNG ORANG-ORANG DIAM


Fiksi Budi Nugroho
Hari ini menjadi hari istimewa bagi anak-anak murid Taman Kanak-kanak (TK) Siwi Peni. Bahkan, sangat istimewa. Setelah setahun penuh menjalani hari-hari bermain di kelas atau di halaman sekolah, di hari perpisahan ini Bu Guru Yati mengajak anak-anak didiknya mengenali kehidupan masa depan lewat waktu silam. Bu Guru Yati memahami betul bahwa masa kanak-kanak adalah masa tamasya. Dan, masa tamasya inilah yang belum Bu Guru Yati tanamkan dalam benak anak-anak didiknya.
Hari ini adalah hari tamasya anak-anak murid TK Siwi Peni yang sebentar lagi memasuki bangku sekolah dasar. Yang berarti, masa tamasya telah lampau. Sebab itu, Bu Guru Yati sangat ingin menorehkan warna-warni alami dalam benak anak-anak yang tengah berproses menuju benak yang berbenak. Bu Guru Yati tak ingin anak-anak sekadar mengenal apa itu hewan di kebun binatang, istana pasir yang tergerus ombak pantai, atau artefak-artefak masa lampau yang dirubung debu dalam museum. Bukan. Bukan ini. Bu Guru Yati hendak mengajak anak-anak didiknya menyusuri Kampung Orang-orang Diam yang tak harus didiamkan. Kampung Orang-orang Diam yang mesti mengundang celoteh polos anak-anak yang baru saja melewati masa balita.
Sebelum memulai keliling kampung, kepada anak-anak murid TK Siwi Peni, Bu Guru Yati berpesan agar mereka selalu senantiasa bertanya dan bertanya kepada Pak Pemandu Tamsya. Tanya dan tanya ihwal apa saja yang dilihat dan terlihat, dirasa dan terasa, didengar dan terdengar.
***
Mentari belum lama mengusir sisa-sisa embun dinihari yang masih menyelimuti daun dan bunga kamboja, dahan dan ranting beringin yang banyak merimbuni kiri-kanan jalan utama dan jalan setapak Kampung Orang-orang Diam. Wangi mawar merah-putih yang ditabur para pengunjung Kampung Orang-orang Diam kemarin sore masih amat menusuk-nusuk dari empat penjuru mata angin. Ditambah pula sedikit wangi melati. Pun tak ketinggalan aroma dupa yang tersisa.
Tik tak tik tak langkah kaki anak-anak TK Siwi Peni penuh warna riang. Melewati gapura yang dijaga oleh dua patung singa. Salam selamat datang dari sang raja singa pada anak-anak yang belum bersentuhan dengan lumpur dosa itu. “Ingat anak-anak, kalian boleh bertanya apa saja di sini tapi hati-hati kalau melihat pemandangan yang lucu. Nanti bisa-bisa kalian tidak bisa berhenti tertawa,” ucap Bu Guru Yati.
Belum sampai di titik pesan Bu Guru Yati, Adrin (bocah kelas nol besar yang ngefans berat pada pembalap motor Valentiono Rossi yang jago di trek MotoGP) tertawa geli sambil menunjuk-nunjuk sebuah rumah mungil berukuran 1x2 meter bujursangkar yang salah satu dindingnya berhiaskan relief bergambar seorang anak muda yang sedang mengelus-elus skuter Vespa keluaran tahun1963. Cecaran pertanyaan Adrin langsung melayang ke Pak Pemandu Tamasya, “Pak Pemandu, kok ada Vespa butut di sini? Kapan sampainya di Rumah Bapa? Kalau aku, aku naik motor balapnya Rossi, langsung melesat ke Rumah Bapa.”
“Bukan anakku, skuter itu bukan kendaraan buat ke Rumah Bapa. Dan, itu juga bukan pesanan si pemilik rumah mungil ini agar dibuatkan gambar ketika dia sedang mengelus-elus Vespa kesayangannya. Gambar itu itu dibuat sebagai untaian memori bapaknya si pemilik rumah mungil ini. Bahkan, waktu itu, bapaknya minta agar skuter si pemilik rumah mungil ini ikut menghuni cungkup kecil ini. Tapi, peraturan di sini terang-terang melarang,” terang Pak Pemandu Tamasya.
“Kenapa mesti dilarang, Pak Pemandu?” Adrin melepas rasa ingin tahu.
“Aduh Nak, lahan di sini terbatas. Setiap warga kampung cuma boleh mendiami kapling 1x2 meter persegi,” jawab Pak Pemandu yang sehari-hari merangkap sebagai jurukunci Kampung Orang-orang Diam.
Langkah bocah-bocah cilik TK Siwi Peni itu begitu pelan namun rancak. Sekira sepuluh kapling dari rumah mungil anak muda mengelus-ngelus vespa, sebuah cungkup nan asri menyambut kedatangan anak-anak TK yang tengah melancong. Disini tersimpan rapi koleksi keris berbagai ukuran dan model tangkai. Terang mengundang tanya anak-anak polos TK Siwi Peni.
“Pak pemandu, ini kan punya Mbah Dipo, mbah buyut aku. Kok ditaruh di sini, bapakku bisa marah lho! Memangnya di sini tidak aman, kok Mbah Dipo mesti siap mempersenjatai diri dengan kerisnya?” celoteh Basuki, buyut Pak Dipodisastro yang di tahun 1960-an dikenal sebagai jawara penakluk maling1) yang masuk rumahnya. Pada zaman itu, setiap kali ada maling masuk rumahnya pasti tidak bisa keluar sebelum diberi sarapan oleh Pak Dipo.
“Oh, di sini aman-aman kok Nak. Tidak ada maling tak ada rampok. Kalau tidak keliru, dulu sebelum tidur panjang, Mbah Dipo berwasiat agar semua kerisnya ditaruh di sini. Bahkan, jas, blangkon dan kain kebesaran Jawa-nya dipakaikan buat tidur di dalam sana. Justru sekarang rumah Nak Basuki yang rawan maling kan, maling masuk langsung menguras isi rumah lalu kabur,” jelas Pak Pemandu Tamasya yang mempunyai cukup pengetahuan bahwa rumah milik Pak Dipo kini ditempati bapaknya Basuki dan keluarga. Dan, memang lagi, rumah itu sering menjadi incaran maling atau rampok, kendati sekadar masuk rumah lalu menghabisi nasi lantas melenggang pulang.
Kegembiraan anak-anak murid TK Siwi Peni bertambah-tambah manakala tiba pada satu rumah unik yang setidaknya memakan enam kapling. Dengan total luas 4x6 meter persegi, sisi rumah itu dikelilingi besi-besi berisi setinggi 180 cm beratap beton cor. Di atas dak beton, tampak patung dua ayam Bangkok tengah berkelahi.
“Pak Pemandu, siapa yang tidur di dalam sana? Kok bisa-bisanya ya, berisik sekali suaranya, orang berantem sama orang, eh di sekelilingnya ayam-ayam pada nonton,” celetuk Irfan, yang sedari umur empat tahun sudah kelihatan mampu menggunakan indera keenamnya.
“Oh itu! Pak Djarwo yang tidur di situ,” ujar Pak Pemandu sembari menjelaskan, “Kalau tidak keliru, Pak Djarwo itu dedengkot ayam aduan di kota ini sekitar tahun 1970-an sampai pertengahan 1980-an.”
“Cocok sungguh Pak Djarwo tidur di situ, tak jauh dari situ ada orang yang nenteng-nenteng Topi Miring sama Leo ndekem2),” ucap Irfan seolah sekenanya.
“Oh, Nak Irfan, ndak ada yang jualan Topi Miring sama Leo ndekem di sini. Kapling yang di atasnya dihiasi botol bergambar Topi Miring dan Leo ndekem itu tempat berdiamnya Purwanto, yang tiba-tiba berhenti nadinya sewaktu ikut pesta hajatan sepasaran bayi di rumah Mas Tarjo, blantik sapi dari Desa Bangak,” papar Pak Pemandu.
“Lalu, di kapling sebelahnya kok ada Martini, Johny Walker dan Vodka3) dari negeri nun jauh dari kita. Siapa lagi yang tidur panjang menunggu dibangkitkan di sana,” Irfan masih menunjukkan kemampuannya menggunakan indera keenam.
“Ah, Nak Irfan kok tahu-tahunya. Di dalam situ beristirahat dalam damai Tuan Tjahjadi yang pengusaha bar & karaoke di Mangga Besar, Jakarta. Dia cepat-cepat istirahat di dalam situ setelah mobilnya nyeruduk tronton di Tol Cawang-Priok. Kabarnya, sebelum pulang ke rumahnya di kawasan Batu Ampar, ia menyempatkan menemani koleganya minum-minum,” Pak Pemandu berusaha memuaskan rasa ingin tahun Irfan.
***
Pak Pemandu Tamasya tampak jelas menguasai betul seluk-beluk dan asal-usul sosok siapa-siapa warga penghuni Kampung Orang-orang Diam. Maka dari itu, pemandu tamasya kampung ini berlangsung turun-temurun. Kendati regenerasinya sangat tertutup namun sosok pemandu yang dilahirkan sangat mumpuni dan mampu memuaskan naluri ingin tahu setiap pelancong ke kampung ini.
Tak terasa tamasya anak-anak murid TK Siwi Peni sudah hampir tiba di pintu keluar kampung. Sebelum sampai di bagian kampung yang bangun kaplingnya teratur dan seragam dengan bedil dan topi baja, rombongan anak-anak TK itu terlebih dulu harus melewati sebuah kapling yang ditancapi miniatur sebuah gincu berwarna merah stroberi. Sayup-sayup, Rizal –yang menghabiskan masa balitanya di Kota Buaya—mendengar kalimat-kalimat khas di salah satu sudut Kota Buaya itu, “Nok Perak Mas kapale kobong, monggo pinarak Mas kamare kosong4).”
“Pak … Pak Pemandu, siapa yang tinggal di sini? Kok masih sempat-sempatnya menawarkan diri,” tanya Rizal.
“Ya, sebagaimana simbol yang menancap di atas nisannya, kalau tidak keliru dia namanya Ngadinem tapi panggilan komersialnya Inung. Dia adalah salah satu primadona Pasar Cilik di tahun 1970-an. Tapi, kabarnya dia pernah malang melintang di Silir, Sunan Kuning, dan Bangunrejo sebelum kemudian diperisteri oleh seorang lelaki pelanggan setianya. Pada hari-hari pasaran, kapling ini menebar bau bacin, Nak Rizal,” terang Pak Pemandu tanpa bisa menyembunyikan kekagetannya memperoleh pertanyaan perihal orang diam di kapling di tapal batas kapling-kapling bertopi baja.  
Mentari mendekati puncak ubun-ubun. Kulit anak-anak murid TK Siwi Peni tak kuat kuat lagi menahan sengatan sang mentari. Di depan cuma tampak jejeran topi baja dan sedikit bambu runcing. Kegersangan menghampar. Padang rumput menyambut.
“Ayo … tiarap … tiarap, pakai tuh topi baja biar selamat kalau ada peluru nyasar,” teriak Sarno, bocah belum genap enam tahun yang bercita-cita ingin menjadi anggota tentara elit. Sembari mengomando teman-temannya, Sarno merayap menuju gerbang keluar Kampung Orang-orang Diam. ***
                                                                Manding-Tjantel, ‘03

---------------
1)Maling: pencuri
2)Topi Miring dan Leo ndekem: dua merek minuman beralkohol produksi lokal.
3)Martini, John Walker, Vodka: tiga mereka minuman beralkohol impor.
4)Nok perak Mas kapale kobong, monggo pinarak Mas kamare kosong: Di Perak Mas kapalnya terbakar, mari mampir Mas kamarnya kosong.




Kamis, 14 Maret 2013

SMS Pak Bas



fiksi budi nugroho

Punggung bus malam yang mengantarku pulang ke kota ini baru saja lepas dari mata, melanjutkan perjalanan ke terminal pamungkas Kota Madiun. Semburat merah di ufuk timur yang mulai merekah belum mampu mengusir rasa kantuk yang sejak dari Kota Salatiga tak tertahankan. Rasa kantuk baru lenyap bergitu aku melihat sebuah rumah berlantai dua, berteras megah dengan kubah dan dua pilar besar, bergaya modern klasik yang tampak kokoh di jantung kota ini. Kantukku semakin hilang begitu melihat rumah itu dilengkapi kolam renang mini, sangkar ayam bekisar, bonsai asli Negeri Sakura, dan akuarium ikan Lou Han di teras rumah.
Rasanya demikian asing aku berdiri di depan rumah itu sesaat turun dari bus malam. Asing lantaran aku seolah tidak sedang berada di kampung halamanku. Asing karena tanaman dan hewan di pekarangan rumah itu sepertinya bukan klangenan priyayi di kota ini. Asing gara-gara arsitektur rumah itu menghapus memori nostalgiaku di tempat ini puluhan tahun silam. Aku benar-benar alien.
Bernakku bertanya-tanya, siapa ya yang menyulap bangunan antik peninggalan Kolonial Belanda yang sempat menjadi penanda kawasan pusat kota ini. Sayang benar, ciri kota tua sirna begitu saja.
Rasanya orang yang memiliki kekuatan duit untuk merubuhkan dan menyulap penanda kawasan pusat kota ini bisa dihitung dengan jari satu tangan. Orang-orang kota kecil ini yang merantu ke Jakarta, atau ke Arab sekalipun, rasanya belum mampu meruntuhkan bangunan antik penuh kenangan itu. Memang ada pesinden asal kota kecil ini yang berhasil membangun rumah seharga dua miliar. Tapi, rumah itu ada nun jauh di luar kota ini.
Rasanya pula, konglomerat hitam yang pernah nilep dana BLBI tak ada yang lahir dan menghabiskan masa remajanya di kota kecil ini. Ada sih seorang jaksa asal kota ini yang sempat hartanya melejit miliaran namun belakangan tertangkap tangan saat menerima suap dari Ayin. Asal tahu saja, denyut perekonomian kota ini nyaris nihil dari tahun ke tahun. Sejak seperempat abad silam kutinggalkan kota kecil ini, bangunan-bangunan rumah, bank, perkantoran, pasar dan kantor polisi yang begitu-begitu saja. Cuma bangunan bekas warisan zaman kolonial yang satu ini yang sangat mencolok perubahannya.
Belum sirna ketertegunanku pada rumah impian seperti yang biasa dipamerkan di sinertron-sinetron televisi swasta itu, pemilik rumah keluar dengan pakaian senam pagi. Dia berlari-lari kecil di halaman rumah berluas lebih dari 1.500 meter bujursangkar dengan hamparan rumput hijau segar dibasahi sisa-sisa embun dinihari.
Lelaki masih umur 50-an, perawakan sedang,  perut belum terlalu buncit dan wajah sangat nJawani. Sepertinya aku pernah akrab muka dengan lelaki berkumis tebal nan terawat itu. Ya, kalau tidak keliru, dia adalah Mas Bejo –teman sekolah STM kakakku tertua. Hebat betul Mas Bejo, rezeqinya mengalir bagai air bah. Padahal, dia dulu ndak sampai tamat STM dan lari ke Jakarta gara-gara kebobolan sewaktu jadi bandar judi Nalo. Aku kembali membuka-bula lembar memori di benakku.
Aku bertambah yakin dia Mas Bejo setelah kulihat ada tahi lalat sebesar biji kedelai di ujung hidung dan ada jahitan bekas luka di jidat. Yakin, ya haqul yakin, tidak salah lagi dia adalah Mas Bejo. Cara berjalan, gaya berlari-lari kecil dan membungkuk-bungkukkan badan, aku masih ingat betul. Lantas kuberanikan diri menyapanya.
Sugeng enjing, apakah benar njenengan Mas Bejo, teman Mas Sanusi di STM tahun 1976? Sekarang Mas Bejo yang punya dan menempati rumah ini?” tanyaku ingin tahu.
Eh, Dik Paiman, sepagi ini sudah ada di sini. Sepertinya baru datang dari Jakarta ya, ndak biasanya kok langsung ke sini.” Mas Bejo tak hendak menjawab pertanyaanku.
“Kemarin pagi aku mendapat SMS dari Pak Bas, beliau minta pagi ini aku harus bertemu di rumah ini. Bukan rumah ini kediaman Pak Bas?”
“Sudah sekitar lima tahun Pak Bas pindah, Dik.”
***
Kenapa Pak Bas –guru yang memberiku landasan-lanasan moral ke-Indonesia-an semasa SMA dulu—masih memintaku bertemu beliau di rumah ini, aku menyimpan tanya dalam relung batinku. Padahal, Pak Bas cukup berduit, terutama dari isterinya yang juragan batik di Pasar Kidul. Rasa-rasanya cukuplah duit buat merawat rumah antik yang memberi torehan historis pada kota kecil ini. Tak perlu sampai menjualnya sehingga sampai-sampai menghilangkan salah satu noktah sejarah.
Aku jadi teringat kenangan-kenangan lucu di rumah, yang dulu akrab disebut rumah Londo, ini. Masa-masa sekolah SMP dan SMA banyak kuhabiskan bermain ini. Sebab, aku karib sebaya anak kedua Pak Bas, Purwo, yang selalu satu kelas sejak dari kelas satu SMP sampai kelas tiga SMA. Kami baru berpisah setelah masih-masih mesti melanjutkan kuliah di kota yang berbeda.
Berkat keakraban dengan Purwo, aku pun sangat dekat dengan Pak Bas. Aku juga jadi tahu betul bagaimana keseharian Pak Bas sebagai guru moral yang bilamana sudah berdiri di depan kelas tampak demikian berwibawa.
Di rumah, meski kompetensi utamanya guru moral, Pak Bas membuka les matematika dan fisika buat siswa-siswi yang merasa kekurangan waktu di sekolah. Padahal, aku tahu, keluarga Pak Bas berkecukupan berkat topangan Bu Bas yang turunan saudagar batik paling sohor kala itu.
Yang kutahu kemudian, kepada anak didik les, Pak Bas membuat aturan agar membayar biaya les sekali dalam sepekan. Terutama di akhir pekan. Begitu menerima bayaran dari puluhan anak didik les, Pak Bas langsung menghilang. Lihat punya lihat, Pak Bas sudah asyik duduk sambil membanting kartu ceki di rumah Koh Bing yang tak jauh dari rumahnya. Pekan berikutnya di rumah Pak Mar, rumah Pak Pardi dan rumah Koh Kodok Ijo. Sudah terjadwal.
***
“Tragis benar nasib Pak Bas sampai harus melego rumahnya. Kenapa ya Mas?” tanyaku pada Mas Bejo yang mengajakku duduk di kursi teras untuk menikmati kopi pahit dan kue semar mendhem.
“Saya ndak terlalu tahu persisnya. Saya sendiri mendapat rumah ini dari iklan di harian Ibukota. Waktu itu saya baca iklan ‘Dijual murah: rumah antik di jantung kotaJalan Sukowati. Harap hubungi 08901234567’. Sebagai orang asal kampung sini, saya sangat tertarik, terlebih perusahaannku di Jakarta bisa saya kendalikan dari sini. Rupanya rumah ini sudah jatuh ke tangan broker yang pasang harga di atas satu miliar, jauh di atas harga pasaran sini,” jelas Mas Bejo.
“Tapi, Mas kan tahu pemilik lama rumah ini?”
“Benar, rumah ini dulu milik Pak Bas, guru idola siswi-siswi SMA pada zamannya.”
“Mas Bejo tidak mencari tahu mengapa rumah ini sampai pindah tangan.”
“Saya dengar dari tetangga sekitar sini, rumah ini terpaksa dijual untuk menutupi utang-utang Pak Bas. Kira-kira enam tahun lalu Pak Bas kalah judi sampai tiga ratusan juta rupiah. Satu-satunya harta yang masih tersisa adalah rumah ini.”
“Kalau begitu betul-betul dijual murah?”
“Betul, Pak Bas melepas ke Broker itu cuma empat ratus juta. Utang Pak Bas mencapai tiga ratus enam puluh juta rupiah, lalu uang yang tersisa dipakai buat membeli rumah tipe-21 di Plumbungan Permai.”
“Lantas, mengapa rumah ini sampai kehilangan noktah sejarah?”
“Sejarah apanya yang hilang. Saya hanya merenovasi, gayanya masih gaya Belanda, ruang-ruang dalam rumah pun masih mempertahankan model, tata letak dan tata furnitur tetap yang lama. Ini saya lakukan untuk menghormati Pak Bas. Dan beliau saya libatkan penuh dalam proses renovasi. Soal kolam renang, taman depan, dan lapangan golf mini itu sekadar buat mengoptimalkan tata lahan yang ada.”
“Memangnya ada pesan khusus dari Pak Bas, Mas?”
“Bukan pesan khusus, beliau cuma minta agar memori masa silamnya tetap terjaga di dalam rumah ini. Sebab itu beliau bisa kapan saja ke sini, entah sekadar memutar memori lama atau mengajak beberapa kawannya main kartu ceki kecil-kecilan. Sore kemarin baru dari sini.”
***
Aku berjalan dari ruang ke ruang, dari kamar ke kamar rumsh Mas Bejo. Semua masih seperti tigapuluh tahun lampau. Yang membedakan hanya kebaruan cat tembok dan politur pintu dan kusen. Oh, ini ruang yang biasa kupakai bermain catur bersama Purwo. Terus, ini ruang yang biasa dipakai buat bermain bekel anak bungsu Pak Bas bersama kawan-kawan sebayanya. Lalu, kamar kesayangan Pak Bas dan Bu Bas. Makin artistik saja. Harmoni dalam paduan warna krem di tembok dan warna khas politur di pintu.
Lantas aku menuju satu kamar yang dulu tak seorang pun teman Purwo boleh melongok, apalagi memasukinya. Cuma teman-teman Pak Bas yang diizinkan masuk. Ruangannya sama luas dengan ruangan di sebelahnya yang biasa digunakan untuk memberi les anak-anak didik Pak  Bas.
“Mas Bejo, Mas sengaja menutup rapat-rapat kamar spesial Pak Bas ini, tidak boleh sembarang orang melihat atau masuk?”
Ndak Dik Paiman, saya menyadari rumah ini menjadi semacam penanda perjalanan hidup bagi orang-orang tertentu, siapa saja boleh melihat-lihat atau memasukinya.”
“Tapi Mas, kok sampai sesiang ini masih rapat terkunci dari dalam. Apakah semalam ada yang tidur di kamar ini?”
“Tidak ada siapa-siapa dari semalam, Dik Paiman!”
Firasat kurang baik menggelayuti benakku. “Mas Bejo, sepertinya ada yang kurang beres. Bagaimana kalau kita buka saja pintu kamar ini?”
“Baik, saya ambil anak kunci serep dulu.” Berbekal kunci serep, Mas Bejo membuka pintu kamar bersejarah itu. Gagal, karena mentok pada anak kunci yang masih terpasang dari dalam.
Akhirnya, Mas Bejo membuka secara paksa pintu kamar itu. Braaak! Astaga! Pak Bas tergantung dengan kabel di cangkolan lampu yang ada di tengah-tengah ruang kamar. Di bawah telapak kakinya ada secarik kertas wasiat: “Paiman, tolong lunasi utang Pak Bas sebesar seratus juta rupiah kepada Koh Kodok Ijo karena semalam Bapak kalah lagi ...” Kata-katanya persis SMS yang masuk ke ponselku beberapa hari lalu. ***   
Kutho Rejo, awal September 2012

Minggu, 23 Desember 2012

ISTANA BATU



 Mentari baru saja keluar dari peraduannya. Tak biasanya, sepagi ini masih banyak orang kumpul-kumpul di rumahku. Yang sudah-sudah berlalu, kalau malamnya karib-karibku pesta ciu dan main kartu dengan cuk seratus dua ratus perak, pagi begini sudah pasti rumahku lengang tanpa lalu-lalang orang-orang.
 Tapi, pagi ini karib-karibku masih saja asyik banting kartu. Bahkan, Dik Reso –yang selama ini membenciku setengah mati—tampak ikhlas membacakan Yaasiin di samping jasadku yang diselimuti sutera batik. Yaasiin atau entah apa namanya, membuat tulang-tulangku serasa menjadi arang. Inikah ganjaran Dik Reso buatku? Entah!
 Beberapa anak muda sibuk mencari papan tulis. Dan, papan berwarna hitam-putih berukuran 80x70 sentimerter persegi akhirnya itu ditemukan di rumah Purwo, anakku yang tertua yang sekarang jadi guru SMA. Lalu, kabarkan:
 Lelayu
Telah meninggal dunia dengan tenang pada hari Senin Pahing pukul 19.30 WIB:
Nama  : Dipodisastro
Umur : 84 tahun
Alamat         : Jalan Perkutut Nomor 13
Dimakamkan : Pekuburan Manding pada hari Selasa Pon pukul 13.00 WIB
 Lantas, anak-anak muda sepantaran cucu-cucuku itu membawanya ke ujung jalan. Dipasanglah di bawah regol kemudian dikibari bendera warna merah yang terbuat dari kertas minyak. Sebuah kematian anak manusia baru saja  berlangsung.
 Sebagian anak muda yang lain mencari sewa pengeras suara dan kaset alunan ayat-ayat suci. Tak ada kesulitan, memang, mereka mendapatkannya di persewaan terbaik di kota ini. Menjelang jam tujuh, gema ayat-ayat suci dari qori nasional merasuk ke sudut-sudut Jalan Perkutut, Kampung Tjantel Kulon. Bahkan, sempat menusuk dinding-dinding tapal batas empat kampung yang bersinggungan dengan Kampung Tjantel Kulon. Kabar tentang sebuah kematian anak manusia terus mengembara mengikuti arah kumandang ayat suci.
 Sisa kebesaran namaku di masa lampau masih begitu terasa pagi ini. Warga kampung tumplek di rumahku. Di tahun-tahun 1950-an sampai 1960-an rasanya semut pun mengenal siapa Mas Dipo. Begitu terkenal dan kuasa, sampai aku mengoleksi tiga isteri di sepanjang Jalan Perkutut, tak ada yang berani memprotes.
 Ya, di tahun-tahun itu aku sangat digandrungi banyak perempuan. Pilihanku jatuh pada Jeng Tuti. Dia lah isteriku yang pertama yang sekaligus memberiku lima anak: Purwo, Pramono, Purwanti, Priyanti dan Priyono.
 Hanya beberapa hari setelah Purwanti lahir, aku kepincut isteri bawahanku di kantor kawedanan. Jeng Mirah namanya. Tak perlu repot-repot buat mengawini Jeng Mirah. Dia bisa menghidupi diri dan anaknya dari usaha wedhel. Soal menyingkirkan suaminya, cukup kumutasikan saja ke desa yang lebih terpencil. Dari Jeng Mirah, aku mendapatkan seorang anak lelaki yang kemudian menjadi seorang wedono di sebuah kawedanan di pinggiran Bengawan Solo.
 Ya, bukan Dipodisastro kalau ndak bisa menaklukkan hati wanita. Di pertengahan 1960-an, saat-saat bungsuku Priyono mau lahir, aku mempersunting Jeng Ragil Kuning. Peminanganku pada Jeng Ragil Kuning tidak menemui hambatan sama sekali meski ia menjadi isteri sah Dik Reso.
 Aku tahu, Dik Reso adalah seorang guru ngaji. Karena pergaulannya yang luas, waktu itu, Dik Reso sangat dekat dengan sejumlah elit partai berlambang palu arit. Rasanya, itulah celah untuk merebut Jeng Ragil Kuning dari tangan Dik Reso.
 Aku tahu, Dik Reso adalah santri taat. Bukan abangan seperti aku. Dia tidak rela Ramelan, sahabatnya yang anak Haji Fathoni, memilih jalan hidup dengan prinsip sama rata sama rasa. Makanya, Dik Reso kerap terlibat baku bincang dengan Ramelan. Tak jarang baku bincang itu berlangsung di sekretariat daerah partai dengan pendukung dari berbagai kalangan itu.
 Dan, memang, sementara aku sangat dekat dengan intel-intel tentara. Maka, kuberikan informasi bahwa Dik Reso ‘menjadi’ antek partai yang kemudian  diberangus oleh orde yang berkuasa setelah peristiwa memilukan pertengahan 1960-an itu. Dik Reso harus menghabiskan sebagian umurnya di Pulau Buru.
 Beberapa hari setelah Dik Reso dibui, tanpa lewat meja hijau, aku langsung mengawini Jeng Ragil Kuning. Pun aku ndak perlu repot-repot menafkahi isteriku yang ketiga ini. Aku cukup beri nafkah batin. Nafkah lahir, dia bisa mencari sendiri. Jeng Ragil Kuning terampil menari tarian-tarian Jawa Klasik.
 Sudah sangat lama aku memendam rasa ingin memiliki Jeng Ragil Kuning. Apalagi, sejak pandangan pertama di rumah RM Dipotaruno, kakakku yang tinggal di Kota Bengawan. Waktu itu, awal tahun 1960-an, Mas Dipotaruno lagi mantu dan nanggap klenengan lengkap dengan penari Jawa Klasik Jeng Ragil Kuning.
 Aku jadi menyesal. Ternyata Dik Reso benar-benar santri taat. Laku-lagaknya senantiasa diwarnai rasa ikhlas. Kedekatannya dengan Ramelan semata lantaran dia ingin sahabatnya itu kembali ke keyakinan ketika keduanya masih sama-sama belajar di Langgar Abu Thohir. Karena gelegak petualangan asmaraku, aku tak ambil peduli. Pokoknya, siapapun yang dekat-dekat dengan pentolan partai berlambang palu arit harus dibabat tanpa ampun. Dan, ini kesempatan emas buat merusak pagar ayu suami-isteri Dik Reso – Ragil Kuning.
 ***
 Bayang mentari kian pendek saja. Bungsuku Priyono sudah datang dari Jakarta setelah semalam ditelepon Purwo. Pramono, anakku yang jadi kadaster di Kantor Agraria, bergegas ke tukang terbelo terbaik di kota ini. Sesuai dengan wasiat yang kutitipkan padanya beberapa waktu sebelum aku sakit berkepanjangan.
 Dulu, kala aku masih sehat, aku memesan terbelo khusus dan kijing spesial di UD Setro Gondo Mayit. Terbelo berbahan kayu jati kelas satu. Diukir dengan gambar Janoko di tutup bagian atas. Keempat sisi samping diukir dengan motif lurik. Pelapis luarnya adalah kain sutera terbagus bikinan pabrik batik terkondang di Kota Bengawan.
 Pun soal kijing. Aku minta dari bahan marmer paling bagus dari Tulung Agung. Dilengkapi pula papan nama yang menerangkan kepriyayianku. Ukurannya kuminta yang agak besar, di atas rata-rata yang ada.
 Sekira lima tahun silam, sebelum malaikat maut menjemputku semalam, aku minta Pramono membebaskan setengah hektar pekuburan Manding. Dengan titik pusat pusara Jengg Ragil Kuning dan Jeng Mirah. Di antara kedua pusara sudah tersiap kapling buat aku dan Jeng Tuti. Dengan kekuatannya sebagai ambtenaar, Pramono berhasil membebaskan kapling itu dari jasad-jasad yang bukan kerabat trah Dipodisastro. Mulai saat itu, kuminta Pramono membangun pagar keliling setinggi satu meter. Empat pusara –Jeng Ragil Kuning, Jeng Mirah, Jeng Tuti dan aku—berhadapan langsung ke pintu gerbang. Antara empat pusara dan pintu gerbang, kuminta dibuatkan papan silsilah trah Dipodisastro, mulai dari anak, cucu, buyut, canggah, wareng sampai udheg-udheg siwur. Terbikin dari marmer kelas wahid. Ditambah lagi dengan pendopo kecil-kecilan buat berteduh sesaat sebelum anak-cucu nyekar tiap Ruwah.
 Kuberangan, istana peristirahatan nan elok. Cermin kebesaran siapa yang istirahat di sana. Keberangan pula, istana ini bisa menjadi tujuan wisata kelak. Wisata ziarah. Kecil-kecilan saja, tak sebesar milik Pak Harto di Mangadeg. Dan lagi, aku tak mungkin menandingi Pak Harto dalam soal membebaskan tanah kuburan. Pramono cuma kadaster di Kantor Agraria lokal kabupaten, mana mungkin mampu membebaskan sebuah lereng gunung.
 Yang pasti, sesuai dengan kepriyayianku, cukuplah bisa mencaplok setengah hektar pekuburan Manding. Anganku menyiapkan tempat tinggal setelah mati kesampaian sudah.
***
 Sang surya tegak lurus di atas ubun-ubun. Pelayat makin menyemut smpai ujung jalan di bawah regol. Kereta jenazah dari tempat penyewaan termahal di kota ini sudah tiba di halaman rumahku. Di ruang tamu, beberapa orang –termasuk Dik Reso—masih sibuk mengkafani jasadku. Agak lama memang, karena jas, blangkon dan kain kebesaran Jawa-ku harus terlebih dulu dipakaikan. Keris kesayanganku pun mesti diselipkan di pinggang. Usai semua itu, Dik Reso seorang menshalatkan jenazahku. Terbelo ditutup, dipaku kuat-kuat. Dik Reso dan para tetangga lalu mengusung keluar. Anak-cucuku sudah menunggu di sana. Prosesi brobosan berlangsung. Jeng Tuti, yang tak kuat lagi berjalan, tampak berkursi roda didorong Priyanti di belakangnya.
 Adzan dikumandangkan lewat pengeras suara sewaan. Aku pun masuk kereta berlapis keemasan itu. Perjalanan ke Pekuburan Manding dimulai. Kira-kira setengah jam, aku telah sampai di atas liang yang disiapkan Sutris –teman Priyono semasa SD dan kawan-kawan. Pajang-lebar kapling disesuaikan dengan terbelo yang terkesan agak besar dibanding badanku yang cenderung ceking. Tiap-tiap sisi berjarak 25 sentimeter ke terbelo.
 Sutris dan seorang kawannya berada di dalam liang kubur. Dik Reso, Purwo dan Pramono bersiap menurunkan terbelo.
 “Tris, pelan-pelan terima ya,” pinta Pramono.
 “Yah, Mas! Nggak bisa masuk,” ucap Sutris dalam nada salah.
 “Tris, kamu nggak salah ukur. Kok bisa kurang.”
 “Nggak Mas, malah sudah saya lebihkan 30 senti di semua pinggiran.”
 “Kalau begitu kamu naik lagi, lebarkan 50 senti lagi.”
 Sutris dan kawan-kawan kembali menggali dengan mencocokkan ukuran terbelo yang sekarang ada di samping liang lahat: “Sudah Mas, masa saya sampai salah ukur.”
 “Tris, terima ya,” pinta Pramono.
 “Lho Mas, nggak bisa masuk lagi!”
 “Sudah kamu naik kembali, lebarkan satu meter sekalian,” kata Pramono sedikit tegang.
 “Mas, kiri-kanan ini kan sudah ada kuburan ister-isteri muda Pak Dipo,” Sutris tersadar.
 “Oke, kalau begitu lebarkan selebar-lebarnya. Pokoknya melebihi ukuran terbelo,” Pramono setengah patah arang.
 Cras, cras, cras, slaap! Sutris mengayunkan paculnya. Sampai-sampai menyenggol, maaf, tengkorak Jeng Ragil Kuning. “Hati-hati Tris,” Pramono ingatkan. Liang kubur 2,5 x 2 meter persegi pun tergali.
 “Ayo Tris, Pak Dipo kita turunkan lagi,” ajak Pramono.
 Lagi-lagi terbelo-ku tak bisa masuk liang kubur. Mengapa begini? Rasanya seumur-umur aku tak pernah menyerobot tanah tetangga, main manipulasi tanah atau menggeser keluar batas kaplig pekarangan.
 “Bagaimana Pak Reso, mesti diapakan jenazah Pak Dipo?”ujar Pramono putus asa.
 “Begini Nak, terbelo kita bongkar, tinggal jasad berkafan putih yang masuk,” Dik Reso menawarkan jalan keluar.
 Aduh, terbelo kesayanganku remuk redam. Tak berarti lagi apa itu kain sutera, ukiran Janoko dan dinding-dinding lurik. Para pelayat termangu, saling baku bisik. Baru kali ini sepertinya mereka menyaksikan prosesi pekuburan macam ini.
 Sembari membaca ayat suci dan dibantu Pramono, Dik Reso berusaha menurunkan jasadku. Apa lacur, tanah yang sudah dibebaskan Pramono beberapa tahun silam itu tetap tak mau menerima jasadku. “Kalau begitu kita kubur berdiri saja,” spontan Dik Reso berucap.
 Haaaah! Jasadku masuk berdiri? Disusul papan-papan terbelo dan kain sutera yang sudah berubah warna tanah.
 Kraaak … kraaak … kraak! Istanaku melumat tulang-belulangku, keris pengasihanku, terbelo jati kesayanganku, harga diri lima anakku, dan tangis lima belas cucu-cucuku.
                                                                    Bekasi-Sragen, awal 2003

________
ciu  : minuman beralkohol tradisional.
cuk : setoran sukarela seorang pemain judi kartu yang memenangkan satu putaran main.
regol : gapura
wedhel : usaha mewarnai kain dengan ramuan warna tradisional Jawa.
kawedanan : satu wilayah administratif yang membawahi beberapa kecamatan yang dikepalai oleh seorang wedono.
klenengan : orkestra dengan gamelan Jawa.
terbelo : peti mati.
kijing : nisan kuburan.
nyekar : ziarah kubur.
Ruwah : bulan dalam almanak Jawa sebelum bulan Puasa.
Brobosan : tradisi kerabat melewati bawah peti jenazah yang akan diusung ke kuburan.

Sabtu, 22 Desember 2012

“Eh, Pak Raden ...”


fiksi budi nugroho

Aku selalu, selalu dan selalu takut meliihat, melewati apalagi menginjakkan kaki di dalamnya. Bayangan bakal diperas, ditipu, dicari-cari lobang kesalahan senantiasa menusuk-nusuk benakku. Entah siang entah malam, senggang atau tegang, terbebat atau terbebas. Aku tidak tahu sejak kapan rasa takut ini mengkristal dalam benakku..
Aku masih ingat nasihat seorang akwan, untuk menghilangkan rasa takut itu gampang: jangan mencebur atau melakukan hal yang menjadi sebab-musabah rasa takut. Sungguh mudah diucap. Dalam langkah, entah.
Sungguh! Kali ini aku betul-betul sulit menghindari sebab-musabab rasa takut itu, aku mesti menginjakkan kaki. Hari ini.  Bukan besok, lusa atau pekan depan. Bulan depan, bukan.
Aku demikian gamang. Tapi, bagaimana lagi. Kendati gundah, kaki harus melangkah tanpa rasa jengah. Bingung pun segera menyergapku. Melangkah, tidak. Masuk, tidak, masuk, tidak. Padahal, tidak ada yang perlu ditakutkan. Semua beres, tiada yang laik dirisaukan.
Aku lihat bangunan berlantai dua di urat nadi kota ini. Di antara bangunan-bangunan perkantoran dan mal yang berjajar di sana, ia tampak paling sederhana. Tapi, keramaiannya saban hari kerap melebihi mal di bulan bermula. Lapangan parkir penuh mobil dan motor. Lalu-lalang orang, kebanyakan lelaku, tiada henti sejak sang mentari sepenggalah naik sampai tergelincir melewati tinggi badan anak manusia.
Aku tatap bangunan berlantai dua di urat nadi kota ini. Di antara jejer-jejeran kotak beton menjulang, ia bagai si miskin yang angkuh. Ia tidak butuh bersolek, toh orang-orang berkerumun ibarat semut bertemu gula. Ia tak perlu memberi rasa aman dan nyaman, toh semua warga tetap mengakrabinya. Akrab yang dipaksakan, yeah! Jangan cari rasa aman dan nyaman di sini, bau keringat bercampur asap knalpot adalah hal lumrah.
***
Hari ini, aku mesti masuk, bukan sekadar melihat dan menatap. Cemas, was-was. Keringat dingin keluar satu per satu dari jutaan pori-pori di sekujur tubuhku. Gemetar. Bayang bakal diperas, ditipu, dicari-cari lobang kesalahan menyelinap dalam benakku. Entah dengan cara apa aku mesti menghempangnya.
Panas sang mentari masih suam-suam kuku. Bayang itu tiba-tiba sirna. Yang lantas muncul adalah sosok Joni. Yang tidak lain adalah tetangga satu lingkungan RT tempat tinggalku. Yang tak lain adalah tetangga yang biasa jadi pasangan main gaple buat mengusir rasa kantuk saat giliran jaga ronda.
Gara-gara aku kurang gaul ataukah lantaran kami saling menyembunyikan identitas profesi masing-masing, entahlah! Aku agak terkaget-kaget bersua Joni di halaman kantor ini. Mengapa Joni tidak pernah bercerita kalau dirinya bekerja di kantor ini? Adakah rasa takut menggelayut untuk diminta tolong para tetangga. Sekadar tolong, memang, kadang cuma sukarela, tidak mengikat, pun tidak menambah pundi-pundi kekayaan materi. Paling-paling tambah pertemanan dan sedikit amal. Itupun bila didasarkan rasa ikhlas.
Setelah sedikit basa-basi, Joni berlalu ke ruang kerjanya di lantai dua. Aku, aku berjalan pula ke lantai dua, ke salah satu loket pelayanan. Tak kupikirkan di sudut mana ruang kerja Joni. Aku ke sini hanya ingin memenuhi kewajiban sebagai warga negara yang memiliki sebuah sepeda motor butut keluaran tahun 1983.
Aku berjalan dari loket ke lokat. Ambil kertas isian berganda. Isi, tulis keterangan-keterangan. Tunggu prosesi. Di sini aku tersandung. Coretan tanda-tanganku sedikit agak berbeda tekanan dan ukuran antara di kertas isian dan kartu identitas penduduk.
Satu kerikil sandungan bertambah. Pada kartu identitas penduduk tertulis namaku: Rd. Bagus Paiman, sedangkan di surat kepemilikan motor tertera: R. Bagus Paiman. Aku tak mengapa sampai terjadi keberbedaan ini. Penjaga loket pelayanan cuma memberi alasan, “Pak Joni ndak mau tanda tangan, Pak. Perlu proses penambahan huruf ‘d’ atau Bapak langsung menghadap ke Pak Joni?”
Proses penambahan huruf ‘d’, haruskah kupenuhi. Anggaranku pasa-pasan pada pos yang satu ini. Tiap bulan aku sudah termehek-mehek mengeluarkan ongkos perawatan motor butut kesayangku.
“Pak Joni, Pak Joni ...Pak Joni..,” gumamku sedikit bersuara. Ya, aku mesti menghadap Pak Joni saja. Masa, masalah begini harus bertele-tele. Sekalian memanjangkan tali silaturrahim di ruang kerjanya. Walau bertetangga, aku jumpa Pak Joni hanya tatkala giliran ronda. Pak Joni berangkay pagi-pagi dan pulang jelang malam. Dan aku keluar sore hari serta tiba kembali di rumah mendekati ujung dinihari.  
“Ok Pak, saya ingin ketemu Pak Joni,” kataku kepada penjaga loket pelayanan. Dan si penjaga mempersilakan.
Rasa takutku telah berlalu beberapa saat. Berganti tanya demi tanya. Beginikah keseharian kantor Joni yang memiliki rumah paling mentereng di RT-ku? Adakah Joni menerima tanda mata proses perbaikan identitas? Jangan-jangan ini sudah menjadi keseharian Joni disini, di kantor ini? Jangan-jangan lagi, ada tanda mata buat proses beda RT, tanda mata pindah alamat, tanda mata ganti nama jalan, tanda mata ganti warna bodi, tanda mata ganti (,), dan tanda mata nambah (.). tanya demi tanya terus memanjang bagai tiada ujung.
Kuketuk pintu ruang kerja bertuliskan: NURJONI ALAM. Oh, ini ya nama lengkap Joni. Kurasa Joni juga tidak tahu namaku secara lengkap. Joni cuma tahu nama panggilanku: Pak Raden.
“Masuk.” Kudengar suara khas serak-serak berat milik Joni. Pelan kuucap salam. Innaa lillahi. Joni terduduk lemas di kursinya, mukanya pucat pasi.
“Eh, Pak Raden ...” suara Joni melemah lalu hilang. Kuraba urat nadinya, berhenti. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun.
Aku linglung dan bingung. Terlebih, aku dalam keterasingan di sini. Jangan-jangan aku akan kena sangkaan menghilangkan nyawa orang lain, sengaja atau tidak sengaja. Aku mencoba bercerita apa yang baru saja kusaksian, kepada anak buah Jonu di luar ruangan. Aku merasa agak tenang karena ada sekretaris pribadi Joni saat aku masuk ruang kerjanya.
Kupinjam telepon pada sekretaris Joni. Kuhubungi isteriku di rumah. Kuminta isteriku mengabarkan perihal kepulangan secara mendadak Joni di kursi singgasananya, kepada isteri Joni.
Lalu, bersama-sama berapa staf, kubawa jasad Joni ke rumah sakit yang kebetulan berada di belakang kantornya. Aku ingin memastikan kepulangan Joni yang tiba-tiba. Dan kuminta secarik kertas yang menerangkan jalan pulang Joni. Ini penting, agar aku tidak ketumpuhan salah.
Dokter yang menerima jasad Joni meyakinkan kalau Joni sudah benar-benar pulang, dengan sebutan klinis: ada bekuan darah tiba-tiba menyerang syaraf ke otak. Tanpa meminta sepeser pun, dokter memberiku surat keterangan kepulangan Joni.
***
Aku mesti membawa jasad Joni untuk disemayamkan di rumahnya yang asri. Tapi, masa aku mesti memboncengkannya pakai motor butut. Rumah sakit merasa kesulitan menyediakan ambulance jenazah. Lima unit ambulance milik rumah sakit sedang berjalan mengambil korban-korban adu jangkrik di jalan tol Jakarta-Cikampek. Sukar dipastikan kapan sampai karena jalan sekitar lokasi kecelakaan adu jangkir total macet. Padahal, Joni yang pulang secara mendadak mesti lekas-lekas diantar ke rumah duka, diurus dan cepat-cepat dibawa ke liang lahat agar tidak menyusahkan hidung orang-orang yang ditinggalkan.
Aku berusaha mencari-cari pinjaman ke orang rumah sakit. Nihil yang bersedia memberikan jasa angkut. Aku usaha lagi ke tetangga-tetangga. Tetap saja nihil hasil. Ada yang yang sedang dipakai ke kantor, buat berbelanja ke pasar, telanjur disewakan, ada pula yang memang tidak mau meminjamkan.
Oh, mengapa begini? Setahuku, dari cerita isteriku di meja makan, Joni termasuk cukup dermawan di mata tetangga-tetangganya. Mobilnya, bilamana tengah nongkrong di garasi, boleh dipinjam siapa saja, apalagi untuk mengantar orang sakit, tanpa meminta uang bensin. Masih cerita isteriku di meja makan, rumah Joni terbuka bagi siapapun yang tengah dirundung nestapa busung perut. Pun tanpa embel-embel uang beras.
Coba-coba aku menyetop mobil yang lewat jalan raya di depan halaman rumah sakit. Sebuah minibus menghampiriku. Kusampaikan maksudku, eh si sopir langsung atncap gas tanpa permisi.
Kulambaikan tangan, sebuah mobil boks barang berhenti. Kuceritakan maksudku. Oh, si sopir langsung putar arahmenjauhiku tiada terucap sepatah kata.
Lalu sebuah mobil bak terbuka, kosong. Stop. Kututurkan keinginan. Dengan mimik ketakutan, si sopir mengunjak pedal gas tunggang langgang.
Oh, apakah yang satu ini pun harus kuminta berhenti? Dari kejauhan sudah tercium aromanya. Bahkan, sepanjang jalan senantiasa mengumbar bau bacin, menjadi pangkal umpatan orang-orang yang berpapasan atau terpaksa mengekorinya.
Yah, daripada semakin menyusahkan. Kulambaikan tangan. Di sopir terkaget-kaget bukan alang kepalang manakal kusampaikan maksud. “Ah, yang bener Pak, masa mau diantar pakai mobil begini?” tanya si sopir penuh keheranan.
“Maaf Bang, aku sudah cari ke mana-mana, tidak ada yang sudi!”
“Ok kalau maunya begitu Pak. Tapi, sebentar Pak, saya ketempat cucian mobil dulu agar tidak terlalu bau. Tadi saya usai mengangkut bangkai-bangkai kucing, tikus dan anjing yang diangkat dari pintu air Manggarai.”
“Tak perlu Bang, langsung saja sekarang. Saya takut kalau kelamaan semakin banyak aib.” ***
Jaka Mulya, 2003