ad

Sabtu, 01 November 2014

Pulang Unjuk Rasa, 43 Mahasiswa di Meksiko Hilang

Tentara menjaga lokasi ditemukannya kuburan massal di Meksiko

Saksi menyebut rombongan mahasiswa itu ditembaki dan diseret.

Menghilangnya 43 orang mahasiswa di Meksiko seolah membuka kotak pandora, yakni terungkapnya korupsi yang dilakukan pemerintah, adanya koalisi polisi dengan kartel narkoba serta kelambanan politik di negara tersebut.

Marka pada jalan raya di kota Iguala, menyebut ada imbalan setara US$100 ribu bagi yang mempunyai informasi mengenai keberadaan para siswa tersebut.

Dilansir oleh Fusion.net, Sabtu 25 Oktober 2014, para mahasiswa yang hilang itu berasal dari perguruan tinggi guru di daerah pedesaan Ayotzinapa, sebelah selatan Provinsi Guerrero. Mereka hilang di Iguala, sekitar dua setengah jam perjalanan dari salah satu pantai terkenal, Acapulco pada 26 September 2014.

Saksi menyebutkan bahwa rombongan siswa itu terdiri atas 3 bus dan dalam perjalanan pulang setelah melakukan unjuk rasa. Tiba-tiba ada polisi yang mengejar mereka lalu menembaki bus-bus tersebut. Sebanyak 3 orang meninggal dan 3 orang lainnya menyusul setelah kembali ada penembakan pada malam harinya.

Beberapa dari mereka dapat melarikan diri, namun 43 orang lainnya diseret masuk ke dalam mobil polisi dan tidak ada kabar sejak itu. Beberapa kalangan yakin, mereka diserahkan oleh polisi pada kartel lokal, Guerreros Unidos.

Sejak saat itu, wali kota dan istrinya diketahui telah melarikan diri. Sementara itu, gubernur sedang mempertimbangkan untuk mengundurkan diri. Namun, para mahasiswa itu tetap belum ditemukan.

Valeria Monge (24 tahun), mahasiswi National Autonomous University of Mexico, --sama seperti semua masyarakat lainnya-- ikut penasaran mengenai kasus ini.
"Saya bersemangat sekaligus takut. Saya ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi," kata Monge.

Dia kemudian mendatangi kampus tempat para siswa yang hilang itu menimba ilmu di Ayotzinapa. "Saya ingin melihat langsung. Saya terkejut hal ini bisa terjadi, dan ini bisa saja menimpa saya," ujar dia.

Sejak menghilangnya para siswa itu, pemerintah telah mengambil langkah-langkah dalam menghadapi masalah polisi setempat yang terkait geng narkoba.

Pasukan federal telah mengambil alih kepolisian lokal di 13 kota di seluruh Guerrero, termasuk Iguala. Sekitar 50 orang telah ditahan, dan di antaranya polisi yang dicurigai sebagai anggota kartel Guerreros Unidos.

Pihak berwenang diketahui kemudian melakukan misi pencarian terhadap para siswa yang hilang. Perimeternya hanya 10 mil, tapi vegetasi yang lebat di lembah Iguala membuat daerah hampir tidak dapat diakses.

Mereka harus menyisir setiap semak, batu, dan kotoran jejak. Di negara di mana 98 persen dari kejahatan itu tidak dihukum, rahasia biasanya dimakamkan dengan orang mati.
Krisis HAM
Setidaknya lima kuburan massal dan lebih dari setengah lusin situs rahasia telah ditemukan dalam pencarian itu. Harapan sempat meninggi ketika ditemukan 28 mayat di situs mengerikan beberapa pekan yang lalu. Namun, tes DNA menyebut para mahasiswa itu tidak di antara mayat-mayat tersebut.
Beberapa penduduk lokal belum menyerah dalam pencarian itu. Mereka yakin ada kejahatan terorganisasi yang mengontrol daerah tersebut. Mereka bahkan mengklaim bahwa beberapa politisi tahu di mana tempat untuk menemukan siswa yang hilang, namun para politisi itu tidak akan berbicara.

Butuh 10 hari bagi Presiden Meksiko, Enrique Peña Nieto untuk angkat bicara. Dia masih belum bisa menurunkan tingkat kejahatan di negara itu, padahal hal tersebut merupakan janji pada saat kampanyenya.

Saat tingkat pembunuhan telah menurun, penculikan dan pemerasan terus mewabah sebagian besar negara. Tahun lalu saja, terdapat lebih dari 100 ribu kasus penculikan dan sekitar enam juta kasus pemerasan di Meksiko.
Angka-angka tersebut adalah yang terburuk dalam sejarah negara itu, menurut pemerintah.

Ini adalah krisis hak asasi manusia terburuk Meksiko dalam 46 tahun terakhir. Cara menangani krisis ini dapat menentukan warisan Pena Nieto , dan masa depan negara. (http://dunia.news.viva.co.id/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar