ad

Minggu, 01 Juni 2014

Korban Perkosaan 9 Pria Diduga Diperas Polisi

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Begitulah nasib korban pemerkosaan 9 pria yang melapor ke Polres Tapanuli Selatan (Tapsel).
Maksud hati mencari perlindungan dan penegakan hukum, orangtua ZD (16) malah diperas oknum polisi berinisial Aiptu SG.
Kenyataan pahit itu diungkap AD (61), orang tua ZD yang menjadi korban pemerkosaan 9 pria di Desa Telo Batang Toru, Sabtu (10/5) lalu.
Seperti dilansir Pos Metro Medan (Grup JPNN), setelah pihaknya membuat laporan pemerkosaan yang dialami anaknya AD ke SPK Polres Tapsel pada Selasa (13/5) sekitar pukul 01.30 WIB, AD mengaku dimintai uang sebesar Rp 1 juta oleh petugas SPK-C berinisial Aiptu SG.
Dengan berat hati, ia pun terpaksa menyerahkan uang yang dikumpulnya dari hasilnya berjualan ayam tersebut.
Kepada wartawan, Jumat (30/5) saat ditemui di Kantor Lembaga Perlindungan Perempuan dan Anak Yayasan Burangir, warga Kelurahan Wek II, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan (Tapsel) itu menceritakan kisah sedihnya.
Bermula, pada Senin (12/5) lalu sekitar pukul 19.00 WIB, anaknya menjadi korban pemerkosaan oleh 9 pria. AD lantas melaporkannya ke Polsek Batang Toru. Namun oleh Polsek setempat dilimpahkan ke Polres Tapsel dengan alasan kasus tindak pidana yang menyangkut perempuan dan anak harus ditangani oleh unit PPA Polres Tapsel.
Sesuai dengan isi surat (STPL) nomor STPL/123/V/2014/SU/TAPSEL, Selasa (13/5) sekitar pukul 01.30 WIB, AD melaporkannya ke unit SPK Polres Tapsel. Dan sedihnya, AD yang seharusnya dilayani dan diayomi malah mendapat perlakuan yang tidak semestinya. Ia mengaku diminta uang sebesar Rp 1 juta usai membuat laporan tersebut.
"Saya heran juga, sudahlah saya yang korban, malah saya yang pula dimintai uang oleh petugas itu. Namun karena keadaan dan kondisi yang mengharuskan, mau tidak mau saya pun terpaksa memberikannya," ujar pria berpenghasilan tidak tetap tersebut.
Ia sangat menyesalkan tindakan oknum yang diketahui berinisial Aiptu SG (Kanit SPKT C Polres Tapsel,red) tersebut dan menurutnya menciderai institusi kepolisian.
"Sampai saat ini saya tidak terima, dan hal ini sudah saya sampaikan juga ke Kanit PPA, dan mereka juga sangat menyayangkannya," ucapnya sedih.
"Sudahlah anak saya yang menjadi korban, malah kami pula yang harus membayar, mungkin karena mereka (petugas,red) menganggap kami orang kampung dan bisa dibodoh-bodohi," sambungnya lagi.
Senada dengan pengakuan ZD, korban pemerkosaan yang saat itu juga mengetahui hal itu mengatakan, usai mereka membuat laporan, tampak petugas berinisial Aiptu SG meminta uang kepada orang tuanya tanpa alasan jelas, untuk apa uang tersebut.
"Iya Bang memang benar Bang, kami dimintai uang sebesar Rp 1 juta, tanpa alasan yang jelas untuk apa uang tersebut," sambungnya saat ditemui di kantor Yayasan Burangir usai mendapat pendampingan psikologis.
Sementara itu, Kapolres Tapsel ketika hendak dikonfirmasi melalui telelpon selulernya mengenai hal itu, enggan menjawab. Dan ketika Pos Metro Medan berusaha mengkonfirmasi kepada Kasat Reskrim AKP Edison Siagian, ia mengatakan pihaknya sudah mengetahui hal tersebut, dan yang bersangkutan akan segera dipanggil untuk membenarkan adanya dugaan pengutipan uang.
"Iya, terima kasih buat informasinya, sebelumnya kita juga sudah mengetahuinya, dan segera akan kita panggil yang bersangkutan untuk mendapat keterangan langsung darinya, apakah benar atau tidak dugaan pungli tersebut," pungkasnya singkat. (www.jpnn.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar